Historitas Pendidikan Indonesia dan Usaha Melawan Kapitalisme

Awal abad XX adalah zaman etis, sebuah zaman baru yang dimulai oleh kolonial Hindia Belanda yang mengusung semboyan “kemajuan” dengan tan...

Awal abad XX adalah zaman etis, sebuah zaman baru yang dimulai oleh kolonial Hindia Belanda yang mengusung semboyan “kemajuan” dengan tanda kata-kata seperti, vooruitgang, opheffing (kemajuan), ontwikkeling (perkembangan), dan opvoeding (Pendidikan). Kartini pernah menyurati sahabat penanya di Belanda dengan kalimat : “Saya begitu ingin berhubungan dengan seorang gadis modern” dan begitu cepat ia menjadi idola dari kaum etisi. Tentu saja semangat zaman etis adalah “kemajuan menuju modernitas”, “kemajuan” dalam arti perkembangan didalam pengawasan Belanda dan “modernitas” yang dimaksud adalah peradaban Barat.

Salah satu kebijakan politik etis Belanda adalah perluasan pendidikan gaya Barat dengan tujuan memproduksi tenaga kerja yang diperlukan negara dan kegiatan bisnis swasta Belanda dan juga sebagai alat utama untuk “mengangkat” bumiputra dan menuntun mereka pada modernitas serta “persatuan Timur dan Barat”. Sehingga pada penghujung abad XIX banyak model Pendidikan gaya Barat. Pada 1983 dibentuk dua jenis sekolah dasar untuk bumiputra, Erste Klass Inlandsche Scholen (Sekolah Bumi Putra Angka Satu) dikhususkan untuk anak priayi dan mereka yang mampu dalam hal ekonom, serta Tweede Klass Inlandsche Scholen (Sekolah Bumiputra Angka Dua) diberalakukan untuk anak-anak dari rakyat biasa.

Sekolah angkatan satu dan dua menggunakan Bahasa daerah dan Melayu sebagai Bahasa pengantar dan murid-muridnya hanya bisa terus sekolah perdagangan, Teknik dan keterampilan setelah lulus. Dengan lulusan sekolah seperti itu di Hindia menjadi sekolah kelas dua, kemudian pada 1914  Hollandsche Inlandsche School (HIS) SEKOLAH Belanda Bumiputra menggantikan sekolah Bumiputra Angka Satu dengan pengantar menggunakan Bahasa Belanda dan dihubungkan dengan sistem sekolah lanjutan Belanda. Seperti Hollandsche Burger Scholen (HBS), sekolah Kelas Menengah Belanda atau School Tot Opleiding van Inlandsche Arsten (STOVIA) sekolah pendidikan bagi dokter Bumiputra dan Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), sekolah pendidiakn bagi pegawai Bumiputra.

Meskipun Pendidikan Barat berkembang pesat namun jumlah murid-muridnya tidak pernah besar jika dibandingkan dengan sleuruh penduduk Hindia, dan orang terpelajar hanya sebagian kecil dari seluruh penduduk. Menurut sensus 1920, presentase orang yang dapat membaca di Jawa hanya 2,74 % dalam Bahasa daerah dan 0,13% dalam Bahasa Belanda. Walaupun demikian jumlah mereka cukup besar, yaitu 943.000 untuk Bahasa setempat dan 87.000 untuk Bahasa Belanda.

Perlu dipahami juga karakteristik Pendidikan gaya Barat dan Pendidikan Tradisional, yaitu Pendidikan gaya barat bersifat sekuler dan juga masuk dalam tatanan kolonial yang terbagi secara rasial dan linguistik, serta terpusat secara politik, sedangkan Pendidikan tradisonal bersifat religious. Dalam Pendidikan gaya Barat, semakin tinggi sekolah mereka, maka semakin dekat dengan pemerintahan serta semakin jauh dengan budaya dari orang tua mereka. Mereka menyebut dirinya sebagai kaum muda, karena perbedaan cara berfikir dengan orang tuanya serta orang-orang yang tidak berpendidikan gaya Barat. Karena Belanda adalah contoh kehidupan modern yang bisa diterapkan dan mengubah kehidupan negara yang pastinya adalah negara Hindia Belanda.

Maka pada Mei 1908 muncullah Boedi Oetomo yang menjadi kebangkitan pertama dalam bentuk organisasi. Gagasan dasar dari pembentukan BO ini sebetulnya sama dengan Sarekat Priaji yang dibentuk oleh Tirtoadhisoerjo yaitu untuk memajukan Bumiputra yang diajukan dengan Bahasa Darwinisme Sosial tentang “survival of the fittest” melalui perjuangan bangsa. Pendirian BO ini disetujui oleh Gubernur Jendral Idenburg dan laporan dari Bahasa Belanda dari Douwes Dekker yang dimuat dalam Bataviaasch Nieuwsblad. Pendiri dari BO ini adalah Dr. Wahidin Soedirohoesodo, seorang “doktor Jawa” di Yogyakarta dan seorang jurnalis pertama di Hindia. Para pendiri yang sesungguhnya adalah pelajar STOVIA di Batavia. Kemudian didirikan cabang-cabang BO ini di Lembaga-lembaga menengah Bumiputra yang bertujuan untuk menyebarkan Pendidikan gaya Barat. Cara penyebarannya adalah dengan surat kabar, media cetak dan hubungan pribadi. Namun kepemimpinan BO dari pelajar segera direbut oleh Priayi mapan dan berpendidikan Barat dan dipindahkanlah pusat kepemimpinan di Yogyakarta dibawah lindungan Pakualam. Sosialisasi BO ini tetap dterbitkan, namun menggunakan Bahasa Belanda dan Jawa. Kaum terpelajar sulit untuk merebut kepemimpinan BO, karena kongres yang setiap kali dilakukan berada ditempat elit yang sulit dijangkau oleh “wong cilik”. Seterusnya BO selalu didominasi oleh orang Jawa yang sangat Priayi.

Dalam latar belakang pendirian BO ini mendapat persetujuan oleh Gubernur Jendral Idenburg yang tujuannya adalah mencetak buruh intelektual yang dapat dipekerjakan dan memperpanjang kolonialisme Belanda terhadap Bumiputra yang naninya akan bernama Indonesia. Tuan Hardeman, kepala Departemen Pengajaran menyatakan dalam sidang Dewan Rakyat, bahwa mendirikan Perguruan Tinggi belum tentu melahirkan buruh terpelajar, karena kebutuhan akan buruh terpelajar itu untuk sementara waktu ini berkurang, disebabkan kesukaran ekonomi yang nanti tentu akan pulih.

Kemudian Tan Malaka mendirikan sekolah Rakyat pada tahun 1921 untuk memperbaiki keteledoran pemerintah dalam hal Pendidikan. Dalam pendiriannya menemui berbagai kesusahan, dari kesulitan teknis, kepegawaian, keuangan, politik, dan polisi, akhirnya dapat didirikaan diseluruh Jawa 52 sekolah dengan jumlah siswa sekitar 50.000 dan semakin bertambah banyak karena sekolah ini dapat dijangkau “wong cilik”. Akan tetapi dalam proses Pendidikan disekolah tersebut mendapat tekanan dari pemerintahan (Belanda) dengan menyewa Penyamun yang diupah dan dipimpin oleh pemerintahan yang tergabung dalam Sarekat Hijau. Penyamun upahan ini diperintah untuk membakar sekolah, menakut-nakuti murid, menganiaya guru maupun murid dan orang-orang sekitar. Begitu pula dengan gerakan rakyat memberantas buta huruf dengan tidak memandang usia dan ekonomi maupun kasta yang dilaksanakan dengan jiwa revolusioner di Priangan pada 1922 juga mendapat tindakan represif dari pemerintahan.

Tan Malaka menyimpulkan dari sikap pemerintah dalam soal pengajaran/Pendidikan ini, yaitu: “Bangsa Indonesia, harus tetap bodoh supaya ketentraman dan keamanan umum terpelihara”. Atau dengan kata lain bangsa Indonesia dididik oleh Belanda untuk melangsungkan kolonialisme lebih lama dan modern. Jadi kemajuan menuju modernitas yang dimaksud adalah kemajuan seperti yang terdapat di Belanda, kemajuan dalam hal Pendidikan, ekonomi, budaya, etika, dll. Hegemoni Belanda lewat Pendidikan menandakan bahwa Pendidikan bukan murni mencerdaskan namun ada unsur muatan politik kekuasaan yang merangkul berbagai kepentingan yang dikeluarkan lewat kebijakan-kebijakan Pendidikan.

Lewat kajian sejarah tersebut, Pendidikan yang diterapkan saat ini tidak jauh dari sistem Pendidikan yang diterapkan belanda di Indonesia. Sebagai orang yang berkesempatan merasakan Pendidikan dan saat ini masih merasakan bangku Pendidikan, harus disadarkan bagaimana wajah Pendidikan dan tujuan Pendidikan. Sebagai orang yang terdidik harus bersikap kritis menanggapi wajah Pendidikan dan realitas sosial. Tidak jarang kita temui dosen/guru yang bersikeras terhadap pemikirannya dan menolak untuk dihadapkan dengan realitas sosial yang sedang berlangsung. Karena dosen/guru memilih zona nyaman dan menganut sistem kurikulum pemerintahan, sehingga materi yang diajarkan dari tahun ke tahun sama dan jarang mendapat perubahan. Padahal keadaan sosial selalu berubah mengikuti zaman yang selalu bergerak. Kemudian bagaimana cara siswa mencapai tujuan dari Pendidikan?

Filsafat Pendidikan menurut Paulo Freire adalah untuk membebaskan, memperoleh keadilan dan kesejahteraan. Pendidikan tidak memandang kasta dan siapapun boleh merasakan Pendidikan. Dalam sistem mengajar seharusnya tidak ada usur doktrinasi yang menyatakan bahwa murid adalah objek pemaknaan karena murid/siswa bukanlah bejana kosong yang harus terus diisi. Sistem Pendidikan seperti itu membuat murid tidak bisa membenturkan realitas sosial dengan teori-teori yang diajarkan, karena sesungguhnya murid datang ke sekolah bukan dalam keadaan kosong, mereka datang membawa kondisi lingkungan. Posisi guru adalah sebagai teman belajar bagi murid, memantik diawal dan membiarkan murid berinteraksi dua arah dengan guru. Guru juga memberikan dialog-dialog yang mencerahkan dan solutif bagi murid terhadap permasalahan-permasalahan sosialnya. Paulo Freire juga membagi kesadaran siswa yaitu, kesadaran Magis, Naif dan Kritis. Pendidikan harus menghasilakan kesadaran Kritis dengan metode Pendidikan kritis. Kesadaran kritis membuat siswa sadar dan tanggap terhadap realitas sosialnya, apa yang perlu dirubah pada keadaan sosial, karena tujuan Pendidikan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Sehingga siswa harus mewujudkan tujuan dari ia memperoleh Pendidikan.

Permasalahan Pendidikan tidak semua dipermasalahkan pada guru ataupun sistem Pendidikan, siswa sebagai unsur Pendidikan juga memiliki peran penting dalam Pendidikan. Siswa memiliki tanggungjawab moral atas ia memperoleh dan merasakan Pendidikan, siswa harus mentransformasikan ilmunya atau paling tidak membagikan ilmu yang diperoleh kepada orang-orang sekitar yang belum sempat merasakan Pendidikan. Banyaknya penyimpangan sosial, degradasi moral, dan minimnya pengetahuan dikarenakan kaum terdidik tidak mentransformasikan dan menyalurkan ilmunya kepada sekitar, malah sebaliknya terbawa oleh arus globalisasi. Karena Pendidikan tidak berkutat pada ruang kelas dan Pendidikan tidak harus menggunakan ruang kelas. Dimanapun tempatnya bisa dilaksanakan Pendidikan, baik itu di jalanan, perkampungan, masjid, rumah dll.

Seperti yang disebut oleh Agus Sunyoto, bahwa kelas yang didesain sebagai area indoktrinasi hanya melahirkan orang-orang pekerja, karena selama dikelas mereka hanya dijejali oleh ilmu-ilmu tanpa membenturkan dengan realitas sosial. Sehingga ketika lulus dari sekolah mereka akan bingung dengan diri mereka sendiri, kehilangan identitas, karena apa yang diajarkan dikelas berbeda dengan relaitas yang ada. Kemudian mereka memilih berkiblat pada Barat dan melupakan budaya orisinil negeri sendiri, sedangkan Barat dengan enaknya menikmati kekayaan alam dalam negeri. Inilah yang namanya tercekik dinegeri sendiri. Pendidikan seperti inilah yang mudah ditumpangi kepentingan dan muatan politik. Moral anak bangsa didikte lewat buku terbitan pemerintah yang isinya sesuai dengan kebijakan/kepentingan politik yang sesuai pada waktu itu, karena kebijakan politik adalah pesanan dari asing.

Unsur kapitalisme dalam Pendidikan juga sangat tinggi, ketika Pendidikan memikirkan untung-rugi, maka kapitalisasi sedang berlangsung. Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan ekonomi, sehingga siapa yang memiliki kekuatan ekonomi ia yang bisa merasakan Pendidikan. Siswa tentunya datang dari latar belakang yang berbeda-beda dan membawa unsur lingkungannya dalam hal pemikiran ataupun ekonominya, jika pendidikan dengan paradigma kompetisi, maka siswa yang datang dari latar belakang ekonomi rendah akan kalah saing dengan siswa yang memiliki ekonomi menengah keatas dan ini menandakan adanya klas dalam kelas Pendidikan. 

Dicontohkan dengan kampus yang menggunakan sistem Semester Antara/Semester Pendek, tujuan diadakannya sistem tersebut (katanya) adalah untuk mempermudah mahasiswa dalam memperbaiki nilai. Namun syarat yang harus dipenuhi adalah minimal 10 mahasiswa yang harus SA/SP, jika kurang dari 10 maka tidak didapat dilangsungkan. Jika sistem tersebut murni untuk membantu mahasiswa atau meningkatkan pengetahuan mahasiswa berapapun yang mendaftarkan diri seharusnya dilayani/dapat dilangsungkan. Tapi tidak dengan sistem tersebut, harus dengan syarat 10 mahasiswa, karena jika hanya 1 mahasiswa belum bisa memberi keuntungan fakultas. Katakanlah 1 mahasiswa membayar Rp. 100.000,- per 2 SKS untuk mengikuti SA/SP, kita hitung 40% untuk gaji dosen, 60% untuk fakultas (untuk membayar listrik ac, lampu, lcd projector, Cleaning Service), maka hasilnya Rp. 40.000,- adalah gaji dosen dan Rp. 60.000,- adalah perawatan fakultas dan uang itu digunakan untuk 6-14 pertemuan (ada kemungkinan 100% adalah gaji dosen). Jika dihitung untung-rugi maka disimpulkan fakultas akan (sangat) rugi tapi jika 10 mahasiswa maka uang yang diperoleh adalah 10 kali lipat yang tentunya menguntungkan bagi dosen dan fakultas, tapi belum tentu menguntungkan bagi mahasiswa, jadi ada nilai lebih (surplus value) yang diperoleh fakultas/dosen yang seharusnya diperoleh oleh mahasiswa. Namun bukan untung-rugi yang menjadi focus Pendidikan tapi bagaimana caranya mahasiswa bisa memahami mata kuliah dengan baik dan memenuhi kriteria kelulusan yang ditentukan oleh sistem kampus. Maka dari itu kebijakan Pendidikan memiliki unsur kapitalisme dan politik.

Ditambah lagi Pendidikan yang menggunakan paradigma kompetisi, bahwa ruang kelas adalah tempat untuk beradu kepintaran sehingga kelas dibentuk sistem ranking/IPK. Siapa yang memiliki ranking/IPK rendah maka ia dianggap bodoh dan lebih cenderung dimarjinalkan dari kalangan orang-orang (yang dikategorikan) pintar. Padahal tanggungjawab siswa/mahasiswa yang memiliki intelektual lebih adalah membagikan/mengajarkan ilmu yang ia miliki kepada siswa/mahasiswa yang dikategorikan memiliki intelektual rendah. Jika kelas menggunakan paradigma kompetisi seharusnya peserta didik dalam persaingan tersebut harus memiliki kesamaan ekonomi, latar belakang, intelektual sehingga persaingan bisa berjalan sehat. Namun bukan itu maksud Pendidikan ini, tapi dimaksudkan agar para siswa terbiasa dengan persaingan pasar bebas.


Ibnu Khaldun berpendapat tentang Pendidikan dan pengetahuan yaitu, kemampuan berpikir, salah satu ciri yang membedakan  manusia dengan makhluk lain. Kemampuan berpikir menghasilkan perkembangan ilmu pengetahuan. Manusia menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan tidak dalam ruang hampa-sosail, tetapi dalam konteks masyarakat tempat mereka hidup. Sebagai seorang yang terdidik harus bisa mentransformasikan ilmunya kepada lingkungannya, ciri mudah sebagai tanda orang yang ilmunya bermanfaat adalah orang tersebut bisa memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar, ikut berperan dalam mewujudkan keadilan dan kemakmuran.

COMMENTS

BLOGGER: 1
Loading...
Name

Agama,4,ahmadiyah,1,Buku,2,Ceramah,1,Cerpen,23,Donna Haraway,1,ekologi,2,esai,20,feminisme,1,fiksimini,4,G30S,1,Gallery,2,Ganja,2,gender,15,HOS Tjokroaminoto,1,hukum,1,Ilyas Husein,1,komunisme,1,Lapor,3,minoritas seksual,1,new normal,1,Opini,1,pascakolonial,1,Pembantaian,1,Pendidikan,2,perempuan,5,petani,1,PMII,1,politik,3,puasa,1,Puisi,3,Ratna Triwulandari,3,resensi,3,Rizka Umami,1,Sejarah,5,seksualitas,1,Selasar,17,Sosok,5,Tualang,1,
ltr
item
selasartutur[dot]com: Historitas Pendidikan Indonesia dan Usaha Melawan Kapitalisme
Historitas Pendidikan Indonesia dan Usaha Melawan Kapitalisme
https://4.bp.blogspot.com/-bRNBJCayIcI/WoKfAiAtFsI/AAAAAAAABaY/y786mWTpKOodWUKvaP_P8DjBVbX1SLQJgCLcBGAs/s320/rembang.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-bRNBJCayIcI/WoKfAiAtFsI/AAAAAAAABaY/y786mWTpKOodWUKvaP_P8DjBVbX1SLQJgCLcBGAs/s72-c/rembang.jpg
selasartutur[dot]com
https://www.selasartutur.com/2018/02/historitas-pendidikan-indonesia-dan.html
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/2018/02/historitas-pendidikan-indonesia-dan.html
true
3884400824057811209
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy