Kepompong Malam

Cerpen: Tongkat pemburu menghantam betisnya. Wati terjatuh. Dibekuk. Kemudian dimasukkan ke mobil bak terbuka bersama orang-orang yang dilacurkan: penghuni Kembang Kuning. Dibawa ke kantor.


“Kejar sebelah Barat gedung ini, ada yang lari ke arah sana!”
“Ikat tangannya supaya tidak lari. Naikkan ke mobil!”
“Pukul saja kalo melawan, jangan ragu!” Sahut-menyahut suara para petugas Satpol PP membuyarkan sekumpulan pemangkal tengah malam. Para petugas terlihat ganas dengan tongkatnya seperti mengejar hewan buruan. Sedangkan buruannya lari tunggang-langgang menyelinap di antara gedung dan semak-semak, satu-dua memaksakan diri masuk ke tong sampah sembari menunggu bunyi subuh.
dariwarga.files.wordpress.com
Wati berhasil meloloskan diri dari buruan petugas. Semalaman ia menyelinap di gang-gang yang sudah biasa menjadi jalur evakuasinya. Karena penampilannya mengundang tongkat petugas, Wati memilih lari meskipun dirinya tidak termasuk pemangkal.
Penampilanlah yang pertama dilihat para petugas, bukan tujuan, latar belakang, apalagi penjelasan. Itulah mengapa Wati harus mempersiapkan betul pekerjaannya.
Kalau bukan karena alasan ekonomi keluarga, Wati tidak akan melakukan pekerjaan ini. Ia mengorbankan diri jadi bahan gosip tentangganya setiap hari, dilucuti martabatnya, dipakaikanlah dosa dan najis ditubuhnya oleh orang-orang. Wati sangat paham resiko pekerjaannya. marginalisasi sampai kriminalisasi sudah siap dihadapinya. Keluarganya tak luput dari resiko itu, untungnya keluarga Wati sangat bisa menerima keadaannya.
“Tok, tok, tok...” Suara pintu yang diketuk Wati dengan ketergesaan.
“Iya, sebentar!” Sahutan dari dalam rumah menjawab ketukan pintu. “Kok berantakan, pak, operasi lagi, ya? Cepet masuk!”
Iya, buk. Malam ini petugasnya semakin garang, gak kenal ampun. Ada yang pake setruman lagi.”
“Yasudah, besok lebih berhati-hati. Sebentar lagi subuh, aku mau menyiapkan dagangan pasar. Tidurnya setelah subuh lho, pak.”
“Iya, buk. Aku mau mandi dulu, setelah itu ke masjid.” Pungkas Wawan, yang bernama malam Wati, kepada isterinya. Kemudian bergegas ke masjid.
Wati adalah nama panggung Wawan ketika berada di jalanan, memainkan suara untuk mendapatkan rupiah.
Adzan Subuh berkumandang tanda Tini, isteri Wawan, harus bersegera ke pasar mempertaruhkan fisiknya menjadi jasa angkat barang juga dagangan.
Tiga anak di rumah menjadi tugas Wawan untuk merawatnya, paling tidak sampai Tini pulang dari pasar. Wawan memiliki waktu dua jam untuk tidur sebelum menyiapkan anak pertama dan keduanya pergi ke sekolah, masing-masing kelas 2 dan 4 SD. Sedangkan anak nomor tiganya masih berusia 2 tahun belum genap, dan tugas Wawan adalah menyiapkan segala kebutuhan balita.
Jam beker berdering, jarumnya menunjuk angka 6, Waan bangkit dari kasur seketika mengecek anaknya, “Nduk, Le, sudah mandi? Ayo sini siap-siap, dipakai seragamnya.” Kedua anaknya terlihat sudah mandi, namun belum berseragam, bau sabun masih menyengat. Anak ketiganya menyusul bangun dengan tangisan tak mau ketinggalan jatah perhatian di pagi hari. Wawan menyusul anak ketiganya, menggendongnya, kemudian kembali menghampiri kedua anaknya yang lain. Dipakaikanlah seragam sekolah.
“Cepet dipakai, sudah telat, ini sudah jam 7.15, lho.” Desak Wawan pada anak-anaknya sambil menunjuk jam dinding dengan jarum yang menusuk angka 7. Sebenarnya Wawan sudah melebihkan 30 menit sejak beberapa bulan lalu akibat anaknya yang bersekolah menyepelekan waktu, tentunya setelah mendapat persetujuan isterinya.
“Iya, Paaak!” Jawab kedua anaknya bersamaan dengan gerak yang semakin cepat menunjukkan mereka menghargai nasihat bapaknya.
Satu keluarga –kecuali Tini yang mengadu nasib di pasar—sudah siap untuk berangkat. Wawan menggendong anak ketiganya di depan, sedangkan dua yang lain membonceng di jog belakang motor yang siap melaju. Mereka menuju sekolah yang berjarak 5 KM dari rumah. Tuas gas diputar Wawan, melaju perlahan dan penuh kehati-hatian, diiringi lagu nasional oleh anak-anaknya. 15 menit ke depan akan menjadi perjalanan yang terlalu singkat.
***
Lampu kuning sepanjang pinggir jalan mulai menyala berjanjian. Wawan mengikuti berganti menjadi Wati. Menjelang petang adalah waktu di mana satu keluarga berkumpul utuh menghangatkan meja makan. Petang juga yang menjadikan satu keluarga memiliki waktu makan bersama. Petang: Tini selesai memasak, Wawan yang tak kemana-mana sejak pagi dengan anak ketiganya, dan anak pertama dan kedua mereka yang kembali setelah menuntaskan waktu bermain.
Maghrib seolah menjadi obituari bagi Wawan sekaligus membangkitkan Wati. Berias, berpakaian feminin, sepatu heels merah menyala dan seperangkat sound system mini yang haram diabaikan.
“Nduk, Le, jangan dilempar-lempar sepatunya nanti cagaknya patah. Kalau patah bapakmu bisa panjang sebelah kakinya.” Tegur Tini pada kedua anaknya yang memainkan sepatu heels bapaknya. Kedua tangannya masih sibuk merias suaminya.
“Iya, buk. Ini, pak sepatu cagaknya sudah Boni ambilkan.” Anak nomor duanya menyodorkan sepatu heels.
“Kok cuma sebelah kanan, yang kiri mana, Le? Masak kaki kanan bapak pakai sandal jepit?” Tanya Wawan sambil melempar candaan pada anaknya.
“Yang satu dibawa mbak, pak. Tadi dibuat main lempar-lemparan.”
“Heleh, kalian berdua sama saja, sama-sama bermain. Suruh mbakmu cepat sana.” Sela Tini yang tak mau jawaban pengkambinghitaman anaknya.
Seluruh keluarga semakin mendekat, tanpa pembatas meja makan, semakin hangat. Di ruang tamu mereka saling mengulurkan tangan merias Wawan. Dua anak menyiapkan barang-barang dan sesekali merias rambut bapaknya. Anak ketiga tak mau melewatkan ramai. Belum mampu berkontribusi selain memainkan bedak dan rambut palsu.
“Sudah beres semua, pak. Hari ini lebih hati-hati, sepertinya petugas semakin serius beroperasi.” Nasihat Tini kepada Wati yang sudah benar-benar menenggelamkan Wawan.
“Iya, buk. Aku sudah menyiapkan semuanya.”
“Ya sudah kalau begitu. Itu pakaian gantinya aku siapkan.”
“Ini, pak minumnya. Tadi ketinggalan di meja makan.” Sebotol air minum diantarkan Sari, anak pertama, ke hadapan bapaknya.
“Oh iya, ibu sampai lupa, untung kok awas matamu, nduk.” Puji Tini kepada anak pertamanya. “Ayo semuanya salim sama bapak. Bapak mau berangkat sebentar lagi.”
Ketiga anaknya bersalaman mencium tangan Wawan diakhiri dengan ciuman tangan Tini. “Selamat jalan Bapak Wati.” Seru anak-anak, mengeluarkan panggilan akrab pada Wawan yang kini digulingkan oleh Wati.
Senyum Wati mengarah pada keluarganya, membalas seruan anak-anaknya. Melambaikan tangan kepada keluarga, bukan tanda perpisahan, tapi tanda janji bahwa Wawan akan kembali bersama rejeki. Langkah demi langkah menjauhkan tubuh dengan keluarga, dengan rumah. Namun bukan untuk meninggalkan, melainkan menjemput hak yang masih terebut oleh keadaan.
Tiga anak berada di tangan Tini, paling tidak sampai kokok ayam mengundang pagi. Bagi ketiga anaknya, pagi adalah kejutan terbesar. Besar karena Wawan berhasil menenggelamkan Wati di saat matahari perlahan meninggi.
***
Malam ini Wawan sepenuhnya menjadi Wati, totalitas. Ia mulai mendendangkan lagu di setiap tempat yang dituju, di setiap keramaian, di sepanjang trotoar. Berbekal sound system, kecrek dan tentunya skill bernyanyi, walaupun tidak sedikit yang mengolok suara bergemanya. Sebenarnya skill bernyanyi Wati tidak begitu memuaskan, mentallah yang mendorongnya menyusur jalanan. Sedangkan penguat mentalnya adalah keluarga, ketika keluarga sudah merestui, apapun akan dilakukan Wati untuk melindungi mereka. Melindungi dari kemiskinan, melindungi dari kelaparan.
Jalanan tidak seramah yang orang-orang bicarakan, tidak semulus proses pembangunannya. Beberapa orang menghindar sebelum Wati menghampiri, entah karena stigma atau karena tak mau kantongnya menipis. Sebagian lain memberi beberapa logam rupiah yang tak sedikit di antaranya juga membumbuinya dengan olokan ekspresi seksual Wati. Dan paling banyak orang-orang sesegera mungkin menyodorkan receh sebelum Wati bernyanyi. Seandainya ada pilihan menghindar mungkin mereka akan memilihnya. Namun, karena sedang menikmati pesanan atau pesanannya belum datang, mereka memilih memberikan beberapa receh dengan maksud segera melenyapkan Wati dari pandangan.
“Bikin hilang nafsu makan saja. Untung cepat pergi.” Celetuk pemesan bakmie jowo setelah Wati menuntaskan langkah ketiganya. Wati mendengarnya lirih-lirih. Abai. Itu sudah jadi makanan sehari-hari.
“Wat!!! Sini nyanyi koplonan lagi. Ya dua, tiga lagulah buat menghibur kita.” Tiga pemuda lengganan suara Wati meminta untuk dihibur. Rokok di tangan kanan, sebotol alkohol di tangan kiri dan kacang sebagai surungan dibiarkan kececeran di bangku taman. Bagi Wati, mereka adalah orang paling menenerima keadaannya.
“Berapa dolar kalian malam ini?” Wati menanyakan isi kantong para pemuda. Dengan suara memanja dan tangan sedikit diserempetkan ke pundak salah satu pemuda.
“Limaribu dolar!!!” Jawab ketiga pemuda serentak mengisyaratkan akan membayar jasa Wati senilai limaribu rupiah.
Tiga lagu dinyanyikan Wati tanda harga telah disepakati. Wati sebenarnya paham, para pemuda itu membayar bukan untuk menikmati lagu yang dibawakannya, apalagi suaranya, tentu tidak. Mereka menikmati keunikan ragam seksualitas manusia yang ada di depannya walaupun tidak dengan bahasa yang ndakik.
***
Rembulan berada di atas kepala, sedikit condong tigapuluh derajat, bersih, tanpa halangan mendung, sinarnya menusuk ke bawah beradu dengan sinar lampu taman. Isyarat bulan memaksa Wati menafsir waktu: “Ini sudah sekitar pukul sebelas malam.” Adalah waktu khusus dengan tempat pemberhentian khusus. Lokalisasi.
Kembang Kuning, seperti itu sebutan untuk lokalisasi di pinggiran kota .Hanya di situ lah tempat paling ramai ketika tengah malam dan tentunya dengan orang-orang berkantong tebal. Itulah mengapa Wati menandai jam khusus untuk tempat yang khusus. Tak ketinggalan, Wati juga berpenampilan khusus: sebatang rokok di tangan kiri. Ia perlu memperlihatkan maskulinitasnya agar tidak dipermainkan, agar mampu melawan pelecehnya. Wati datang bukan untuk menjual tubuh, ia masih menjual suara, itulah mengapa maskulinitasnya semakin diperlukan.
Sepuluh menit yang lalu Wati sampai di Kembang Kuning, selama itu juga Wati masih menanggalkan kewaspadaannya. Tak dikira tak dinyana, penghuni dan pengunjung Kembang Kuning berhamburan keluar ke jalan-jalan menyelamatkan diri. Para pemburu datang, tanpa tanda-tanda, tanpa sirine, tiba-tiba bunyi tongkat menghantam meja-kursi dan benda-benda yang mengeluarkan bunyi mengejutkan ketika dipukul.
Sial bagi Wati, ia salah prediksi. Pemburu datang terlalu cepat hingga ia tak sempat menyiapkan diri untuk lari. Kakinya reflek mengambil seribu langkah, tapi tak bisa cepat karena sepatu heels masih membalut kakinya. Tongkat pemburu menghantam betisnya. Wati terjatuh. Dibekuk. Kemudian dimasukkan ke mobil bak terbuka bersama orang-orang yang dilacurkan: penghuni Kembang Kuning. Dibawa ke kantor.
“Wawan, laki-laki, kawin. Kenapa kamu di lokalisasi? Siapa juga yang mau memakaimu? Kamu punya keluarga, apa ndak malu?” Tanya salah seorang petugas setelah melihat KTP Wati. Kini Wati harus tenggelam sebelum waktunya. Berganti Wawan.
“Buat apa saya malu, pak? Saya juga tidak menjual tubuh, saya mengamen di sana, pak.” Wawan balik bertanya dengan suara aslinya. Dengan ekspresi laki-lakinya. Sedikit jengkel karena dilecehkan.
“Keluargamu bisa malu kalau tahu kamu seperti ini. Apalagi anak-anakmu, mereka akan malu ketika satu sekolahan mereka tahu pekerjaan bapaknya seperti ini. Kamu akan tambah berdosa kalau keluargamu berantakan gara-gara pekerjaanmu yang menyimpang ini.” Hardik petugas dengan suara keras melebihi suara maskulin Wati.
Malam sampai pagi Wati berada di kantor Satpol PP menunggu kepastian pembebasan. Alasannya tidak diterima sama sekali. Sedangkan keluarganya dengan harap-harap cemas menunggu Wawan bersama beberapa rezeki. Cemas karena tidak seharusnya di pagi hari Wati berada di luar rumah.

COMMENTS

BLOGGER
Name

Agama,5,ahmadiyah,2,Buku,2,Ceramah,1,Cerpen,24,Donna Haraway,1,ekologi,2,esai,22,feminisme,1,fiksimini,4,G30S,1,Gallery,2,Ganja,2,gender,16,HOS Tjokroaminoto,1,hukum,1,Ilyas Husein,1,komunisme,1,Lapor,3,minoritas seksual,1,new normal,1,Opini,1,pascakolonial,1,Pembantaian,1,Pendidikan,2,perempuan,6,petani,1,PMII,1,politik,3,puasa,1,Puisi,3,Ratna Triwulandari,3,resensi,3,Rizka Umami,1,Sejarah,5,seksualitas,1,Selasar,18,Sosok,5,syiah,1,Tualang,1,
ltr
item
selasartutur.com: Kepompong Malam
Kepompong Malam
Cerpen: Tongkat pemburu menghantam betisnya. Wati terjatuh. Dibekuk. Kemudian dimasukkan ke mobil bak terbuka bersama orang-orang yang dilacurkan: penghuni Kembang Kuning. Dibawa ke kantor.
https://1.bp.blogspot.com/-B2YC8lj8fFw/Xn4Z2mNuxiI/AAAAAAAADUA/AV0hZ2T1ibMph7nCxbK4aH4jpAF8PAcPwCLcBGAsYHQ/s320/ngamen.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-B2YC8lj8fFw/Xn4Z2mNuxiI/AAAAAAAADUA/AV0hZ2T1ibMph7nCxbK4aH4jpAF8PAcPwCLcBGAsYHQ/s72-c/ngamen.jpg
selasartutur.com
https://www.selasartutur.com/2020/03/kepompong-malam.html
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/2020/03/kepompong-malam.html
true
3884400824057811209
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy