Selamat Tidur di Tahun ke-60 - Selasar Tutur

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selamat Tidur di Tahun ke-60

Share This
Mendemo KPK. source: suara.com

Ini tahun ke-60 organisasi Biru Kuning sejak bung Mahbub Djunaidi (lahul fatihah) di tampuk pimpinan pertama di tahun 1960. Setiap tahun pasti umur bertambah, begitu juga dengan kader, tak mungkin rasanya organisasi ekstra parlementer membiarkan sekretariatnya sepi tak berpenghuni (jika punya). Genjot terus sampai seisi kampus berkibar bendera kuning.

Apa yang terjadi setiap tahun di bulan April adalah meramaikan tanggal 17, jadi selamat juga buat yang tanggal lahirnya bertepatan. Pagelaran rangkaian kegiatan untuk mengasah kreativitas, nalar kritis, sampai cara mengikuti pasar pun diagendakan. Cara mudah membaca tipologi orang-orang organisasi bisa melalui kegiatan yang mereka adakan.

Itu yang terjadi di khayangan kedua yang dihuni kader dan pengurus. Sedangkan khayangan yang di atasnya—yang dihuni para pendahulu dan kini naik pangkat menjadi ‘Dewa’—melakukan hal lain. Sebagian melakukan refleksi, romantisme dan heroisme masa lalu, ada juga yang mengungkap kedok temannya: ‘berapa kader yang kau pacari selama berproses?’ Ah, kacang!

Saya melihat kontradiksi apa yang terjadi antara khayangan pertama dan kedua. Di khayangan kedua penghuninya terseok-seok demi menciptakan kegiatan yang kritis-kreatif, sampai akhirnya memunculkan kegiatan apa adanya. ‘Asal ada kegiatan di tanggal 17 ini, maka sudah terhitung merayakan’ yang berpikir seperti itu juga ada. Dan terjadi. Sepertinya penghuni khayangan pertama tidak tertarik melirik ke bawah, menyuplai kebutuhan pokok khayangan kedua.

Jadi, terlalu naif jika para penghuni khayangan pertama selalu menyalahkan khayangan kedua karena kurang bisa memproduksi kader yang kritis-kreatif.

Alih-alih menyuplai ide gagasan, penghuni khayangan pertama sibuk membuka dokumen masa lalu. Saya malah teringat dengan kematian Raja Edward II yang terbunuh di Berkeley tahun 1327. Kematiannya yang mengenasakan dengan anus yang terhunus besi panas tidak menjadikan kewibawaannya hilang. Patung penghormatan dipahat dan diletakkan di sebelah peti mati Raja sebagai ganti tubuh alaminya.

Kematian Raja Edward II hanya menghilangkan tubuh alaminya saja, tapi rakyatnya masih mengakui dia (pernah) sebagai Raja yang harus dihormati dan dijaga kewibawaannya. Kantorowicz bertutur, ada dua tubuh yang dimiliki raja, tubuh alami yang bisa mati dan tubuh politis yang tidak bisa mati.

Nah, melihat apa yang dilakukan apa yang dilakukan penghuni khayangan pertama adalah usaha memahat patung mereka sendiri. Meskipun tubuh mereka sudah tidak ada di khayangan kedua, tapi patung mereka berdiri tegak di sana. Berharap mereka layak dikenang dan dihormati.

Tapi, saya rasa, penghuni khayangan pertama belum waktunya mematikan diri. Toh Anda masih bisa melirik ke bawah dan menyuplai sesuai kapasitas. Perihal memahat patung, biarlah penghuni khayangan kedua yang melakukan. Mereka memahat berarti Anda sangat berpengaruh, kalau tak dipahat, ya jangan kecil hati. Teruslah menyuplai tanpa mendamba pahatan patung.

____

Banyak yang bisa dilirik kemudian disuplai dengan gagasan. Misalnya, minimnya literasi, rendahnya selera diskusi, taklid pada dosen, manggut-manggut pada kebijakan kampus/publik. Ini masalah serius, bukan main-main.

Tingkat literasi yang rendah menjadi pemicu masalah belakangan. Ambil amanat Paulo Freire mengenai pentingnya menumbuhkan kesadaran kritis. Untuk mencapai kepada kesadaran kritis harus dimulai dengan perbanyak membaca: buku, berita, realita. Dan jangan lupa untuk mendiskusikannya.

Penguni khayangan pertama jangan menjadikan bawahnya bangga memiliki sifat taklid buta. Terlebih mencekokinya dengan doktrin NKRI Harga Mati, atau ‘utamakan amaliah’. Memintanya membaca sebelum berbicara lebih penting daripada ‘berbakti pada omongan alumni.’ Hei, inikan organisasi Pergerakan, tidak sama dengan Pelajar itu.

Lebih-lebih memamerkan alumni yang sudah memiliki posisi tinggi di pemerintahan. Saya rasa ini tidak begitu perlu. Iya kalau dia amanah, masih menggenggam paradigma kritis transformatif, kalau sebaliknya? Bisa-bisa memalukan organisasi seperti: SDA, IN, IM. Atau memamerkakn stafsus presiden saat ini, AM, ini juga tidak begitu perlu. Semoga saja dia tidak mendapat giliran blunder seperti stafsus lainnya.

Saya jadi khawatir, yang seharusnya berpihak pada rakyat, menjembatani antara rakyat-pemerintah, nantinya organisasi ini malah menjadi ideologi aparatus negara. Semoga saja jembatannya tidak (di)runtuh(kan) setelah mencapai kantor pemerintahan, supaya bisa kembali memeluk rakyat.

____

Lalu apa pemberian yang terbaik di hari lahir ke-60 ini?

Ada yang memberi ucapan selamat, ada yang memotong kue berlilin angka 60, ada yang mengadakan berbagai event menarik. Tapi saya lebih sreg berdiri sebagai pemberi kritik dan menilai tubuh sendiri. Karena ini bukanlah organisasi serba seremonial, juga bukan pesantren kilat yang mengutamakan kebutuhan praktis melupakan kebutuhan strategis.

Sampai kapan membanggakan banyaknya kader, ribuan, bahkan jutaan kader jika semuanya hanya menumpang mandi? Habis air di sumur, bengkak tagihan bulanan, sia-sia semua pengorbanan (bagi yang berkorban).

Kalau organisasi hanya menawarkan posisi kadernya menjadi aktivis ber-SK dan sertifikat, saya kira organisasi akan segera terdisrupsi. Sekarang untuk menjadi aktivis di era revolusi indusrti 4.0, dan menggerakkan masa tidak perlu tergabung dalam organisasi. Setiap orang hanya perlu bermodalkan jari dan memainkan kata-kata di media sosial sambil rebahan. Micah White menggunakan term “clicktivism” untuk menyebut aktivis di dunia maya.

Faktanya, menurut penelitian Muzayyin Ahyar dan Alfitri (2019), penggerak aksi 212 adalah clicktivism. Aktor-aktor agama seperti kiyai, ustadz, ulama digeser oleh kekuatan jari yang mewakili suara individu.

Jadi, apa yang ditawarkan organisasi pergerakan? Jika hanya untuk disebut aktivis, mahasiswa hanya perlu modal media sosial dan kuota, tidak perlu mengikuti tetek bengek aturan dan sumpah organisasi yang ketika matinya masih bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Efektivitas menggerakkan masa dibuktikan oleh clicktivism yang mampu meng-agitasi mahasiswa sampai siswa-siswa STM saat aksi Reformasi Dikorupsi. Lagi-lagi, gerakan baru apa yang ditawarkan organisasi pergerakan sehingga ia layak untuk diikuti?

Selamat (Tidur di) Hari Lahir ke-60 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia!

 

Yogyakarta, 17 April 2020


No comments:

Post a comment

Lontarkan komentar di sini...

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here