Globalisasi dan Seksualitas: Konstruksi, Demokrasi, dan Resistensi

Seksualitas yang disandang oleh manusia hari ini merupakan hasil tempaan kuasa. Bukan hanya di perkotaan, tapi juga pedesaan, hampir memilik...

Seksualitas yang disandang oleh manusia hari ini merupakan hasil tempaan kuasa. Bukan hanya di perkotaan, tapi juga pedesaan, hampir memiliki seksualitas yang seragam. Meskipun sebagai penyandang, seorang cenderung tak sadar ke arah mana dan untuk apa mereka di bentuk. Sampai detik ini seksualitas menjadi pertunjukan.


Beristeri salihah; berhijab; bisa memasak; pandai mengasuh anak; menutup aurat, beberapa tersebut merupakan tren yang berlaku di seluruh kelas sosial. Kompleksitas sistem reproduksi perempuan selalu menjadikannya tersubordinasi, walaupun dengan narasi memuji.


Untuk mengatakan bahwa itu merupakan perkembangan gaya hidup manusia, juga kebutuhannya, rasanya terlalu naif. Persoalan gaya hidup tersebut tak bisa dilepaskan dari bahasan seksualitas. Kita tidak akan memahami seksualitas melalui kitab suci KBBI, yang memiliki pengertian: ciri, sifat, atau peranan seks; dorongan seks; kehidupan seks. Sekali lagi bukan. Itu terlalu pendek untuk memahami pertunjukan yang hampir seragam dan panjang itu.


mediaindonesia

Globalisasi, ini adalah “kata” pengantar untuk dapat memahami pertunjukan seksualitas. Menurut Giddens, globalisasi berhubungan dengan perkembangan masyarakat modern menuju industrialisasi dan akumulasi sumber daya. Kemudian sumber daya menjadi kontinuitas dari modernitas yang pada era kontemporer disebut sebagai “modernitas tingkat tinggi”, yakni modenitas yang bergerak ke dalam tahap global. Masyarakat menjadi masyarakat dunia dan individu-individu dihadapkan dengan institusi-institusi sosial yang mengglobal.


Ciri dari globalisasi adalah meningkatnya kecepatan gerakan, penyusustan ruang, batas yang bisa ditembus. Seperti adanya internet yang memungkinkan tukang gali kubur di desa bisa berkomunikasi dengan Bill Gates melalui DM.


Giddens juga menyebut modernitas refleksif, yaitu suatu komponen esensial dari proses globalisasi yang dicirikan oleh meningkatnya arus informasi, imaji-imaji, simbol, dan identitas lifestyle yang bisa diperoleh atau dibeli. Modernitas selektif mendorong terjadinya pergeseran makna politik, di mana bukan lagi melulu soal ‘publik’, melainkan sudah merambah pada wilayah privat.  Sehingga muncul politik pilihan hidup (life politics) yang memperjuangkan alternatif pilihan hidup.


‘Menjadi ibu rumah tangga juga perlu tampil mempesona, cantik, dan pakaian yang up to date.’ Iklan persuasif yang kini tidak hanya menyentuh telinga high-middle class, ibu-ibu yang jadi kuli panggul di pasar Bringharjo pun juga tersentuh.


Media adalah elemen penting dalam memahami globalisasi. Ia adalah teman yang selalu mengiringi perjalanan globalisasi. Lihat, Hendri Julius, ia tidak akan bisa melahirkan buku C*bul kalau tak ada situs PornHub, XNXX, dkk.. Media berperan sebagai penyebar pesan dan informasi sampai ke pelosok terpencil bumi. Media juga yang melahirkan budaya global sebagai produknya, seperti McDonald, pepsi, pizzahut. Misalnya juga Cosmopolitan, sebuah media yang dipasarkan secara franchise. Ia menampilkan selebriti-selebriti dunia sebagai covernya, tak ketinggalan pula gaya hidup mereka.


Tidak sulit, bukan memahami fenomena penutupan McDonald Sarinah beberapa waktu lalu? Meskipun masa pandemi, masyarakat tak mau ketinggalan menyaksikan McD pertama di Indonesia itu kembali ke negeri Paman Syam. Ya, namanya sudah membudaya, ancamanpun seperti duri di tumpukan jerami.


Berbagai promosi gaya hidup telah diambil alih media, bahkan di tempat-tempat yang sebelumnya tabu, seperti seksualitas. Ia menjadi ujung tombak globalisme untuk masuk pada wilayah subjektif, memaksa individu menginternalisasikan perubahan—yang diasosiasikan kepada globalisasi—kemudian dihubungkan ke dalam emosi serta cara berpikir individu.


Baca juga: Jalan Sppiritual Menjadi Transgender

 

Namun, individu bukanlah entitas yang pasif, mengulum setiap permen yang disodorkan. Merujuk pada Robertson, ia membagi tiga cara individu merespon realitas global, (a) seleksi, (b) adaptasi, (c) resistensi. Tahap seleksi merupakan proses individu menyeleksi atau memilih budaya yang cocok atau sesuai dengan kondisi lokal, disinilah yang disebut sebagai glocalization. Adaptasi adalah partisipasi individu dalam budaya global. Lalu, resistensi sering merujuk pada fenomena-fenomena bangkitnya kelompok-kelompok etnis atau agama yang merasa nilai yang mereka anut terancam dengan adanya budaya-budaya baru.


Ada satu unsur yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu kapitalisme lanjut. Ia menciptakan kebutuhan-kebutuhan yang dengan begitu membuka arena baru dalam akumulasi modal. Budaya global sangat dipengaruhi oleh komodifikasi, komersialisasi, dan konsumerisme yang disetir oleh industri komunikasi, periklanan, dan media dalam rangka merengkuh cuan. Kapitalisme lanjut ini sangat berpengaruh terhadap gaya hidup individu dengan menciptakan hasrat (desire) atas kebutuhan-kebutuhan. Masyarakat dimata-matai dompetnya, dipaksa menjadi konsumtif.


Mengarsiteki Seksualitas


Jika seksualitas selama ini kita pahami sebagai persoalan biologis, sepertinya perlu melibatkan wacana globalisasi. Pertama perlu untuk berpijak pada pandangan kritis Foucault soal seksualitas. Menurutnya seksualitas adalah konstruksi sosial yang beroperasi dalam wilayah-wilayah kekuasaan, ia bukan sekadar sekumpulan dorongan biologis yang menemukan pelepasan. Lebih lanjut, ia merupakan bentuk perilaku dan pikiran yang ditundukkan atau ditempa oleh relasi-relasi kekuasaan yang dijalankan untuk tujuan yang lain di luar kepentingan seksualitas itu sendiri.

pintererst

Jejaring relasi kuasa yang dimaksud Foucault adalah wacana dominan yang berkelindan di kehidupan kita. Seperti seks di abad ke-18 yang menjadi urusan polisi. Bukan dalam pengertian tabu, melainkan sebuah kebutuhan untuk mengatur seks melalui berbagai wacana yang dipandang efektif dan produktif. Salah satu strategi kekuasaan adalah bagaimana mendayagunakan seksualitas penduduk untuk kepentingan ekonomi-politik. Prokreasi digunakan oleh kekuasaan sebagai sumber daya pasukan perang, sedangkan secara ekonomi adalah bertambahnya tenaga kerja.


Kemudian yang menjadi fokus adalah bagaimana menyempitkan seluruh seks hingga sebagai fungsi reproduksinya dalam perkawinan (heteroseksual) yang sah, dan hanya bagi orang dewasa. Misalkan layanan kesehatan reproduksi dan kontrasepsi, keduanya hanya bisa diakses oleh orang yang hendak menikah atau sudah dewasa. Atau, legitimasi peran maskulin-feminin dalam rumah tangga melalui peraturan perundang-undangan.


Baca juga: Sikap Tan Malaka Terhadap Perkawinan Paksa

 

Hukum merupakan wacana yang fungsinya untuk menyempitkan praktik seksualitas: hanya fungsi reproduksi, biologis. Strategi wacana yang digunakan adalah histerisasi tubuh perempuan. Tubuh perempuan dianalisis sebagai tubuh yang penuh seksualitas. Secara organis dikaitkan dengan masyarakaat (harus menjamin kesuburan), ruang keluarga (harus fungsional), dan kehidupan anak-anak (harus dipelihara melalui suatu tanggungjawab biologis moral).


Strategi wacana yang kedua adalah sosialisasi perilaku prokreatif. Seksualitas selalu dikaitkan dengan hubungan heteroseksual, di luar itu dianggap menyimpang. Misalnya di bidang ekonomi, selalu dihubungkan dengan pengereman atau perangsangan dalam kesuburan pasangan. Di bidang kedokteran melalui patogen bagi praktik anti-kehamilan.


Sampai di sini Foucault menegaskan, bahwa bukan seksualitas-biologis yang memproduksi wacana, tetapi justru wacanalah yang memproduksi seksualitas. Wacana bekerja untuk menundukkan seksualitas agar sesuai dengan kepentingan.


Globalisasi Seksualitas: Demokrasi dan Potensi Resistensi


Distribusi wacana, bagi Foucault, memungkinkan akan adanya wacana tandingan. Giddens dengan globalisasi-nya menunjukkan potensi adanya perubahan cukup signifikan dalam pelembagaan seksualitas. Ini bisa menjadi wacana yang muncul dari global masuk ke daerah lokal. Tak ayal, globalisasi mampu menyingkap ketabuan seksualitas.


Giddens mengidentifikasi revolusi global yang tengah berlangsung di era globalisasi yang terjadi di wilayah intim: seksualitas dan perkawinan. Mulanya seksualitas selalu dikaitkan dengan hal reproduksi untuk tujuan keturunan. Pembentukan keluarga tidak lebih dari suatu unit ekonomi, laki-laki mencari nafkah dan isteri tunduk-patuh terhadap seksualitas laki-laki.

gurugeografi.id

Namun, ditemukan dan digunakannya alat kontrasepsi mendorong terjadinya pemiasahan total antara seksualitas dan reproduksi (revolusi seksual). Kini telah membawa implikasi terhadap perubahan di wilayah seksualitas yang kemudian berdampak pada institusi perkawinan dan keluarga. Muncullah istilah “seksualitas plastis” (plastic sexuality), sejenis seksualitas terpusat yang terbebas dari kebutuhan-kebutuhan reproduksi. Ini merupakan emansipasi yang terjadi pada seksualitas perempuan, terutama pada kenikmatan seksual.


Kemudian gagasan mengenai cinta romantis dan hubungan yang lebih adil dan setara sebagai dasar suatu perkawinan sebagai kontrak ekonomi telah menggantikanan nilai-nilai lama yang menyangkut relasi jenis kelamin. Giddens mengidentifikasi munculnya fenomena pasangan (couple) dan hidup berpasangan (coupledom), di mana komunikasi emosional menjadi kuncinya.


Ini memungkinkan akan adanya transformasi keintiman di mana wilayah intim dilihat sebagai bentuk ikatan-ikatan personal oleh orang-orang yang setara. Pada akhirnya menunjuk pada adanya demokrasi dalam ranah interpersonal, yang sejalan dengan demokrasi di ruang publik.


Baca juga: Keluarga pada Sejumput Tanah

 

Globalisasi, yang umunya muncul dari Barat, memungkinkan—dalam hal ini seksualitas—untuk masuk ke negara Timur beserta budayanya. Di wilayah seksualitas, ini tampak membawa prinsip demokrasi. Persoalan seksualitas non-prokreasi mungkin dapat realisasikan dengan alat kontrasepsi dan kemudian memadu hubungan yang setara. Bahkan hubungan tanpa perlu pelembagaan: perkawinan. Namun, merujuk ke Robertson, resistensi dari masyarakat pasti akan tiba, terutama pada sektor keagamaan di mana sampai saat ini wacana tersebut masih dominan.


Membincang kearah mana seksualitas di era globalisasi di bentuk juga sangat perlu. Datangnya memang menyingkap tabu. Namun, selalu ada agenda di belakangnya. Dan resistensi tidak melulu karena bertentangan dengan nilai agama, tapi bisa juga karena agenda kapitalisme lanjut yang menjadi dasar resistensi.[]


COMMENTS

BLOGGER
Name

Agama,5,ahmadiyah,2,Buku,2,Ceramah,1,Cerpen,24,Donna Haraway,1,ekologi,2,esai,22,feminisme,1,fiksimini,4,G30S,1,Gallery,2,Ganja,2,gender,16,HOS Tjokroaminoto,1,hukum,1,Ilyas Husein,1,komunisme,1,Lapor,3,minoritas seksual,1,new normal,1,Opini,1,pascakolonial,1,Pembantaian,1,Pendidikan,2,perempuan,6,petani,1,PMII,1,politik,3,puasa,1,Puisi,3,Ratna Triwulandari,3,resensi,3,Rizka Umami,1,Sejarah,5,seksualitas,1,Selasar,18,Sosok,5,syiah,1,Tualang,1,
ltr
item
selasartutur.com: Globalisasi dan Seksualitas: Konstruksi, Demokrasi, dan Resistensi
Globalisasi dan Seksualitas: Konstruksi, Demokrasi, dan Resistensi
https://1.bp.blogspot.com/-yyFYdPFWzIU/XsgZLb8RLAI/AAAAAAAAEMo/7_mWfLvtch0q4XGt8uJA0qgY8X2dv_NIACK4BGAsYHg/s320/seraat%2Bcenthini%2Bkompasiana.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-yyFYdPFWzIU/XsgZLb8RLAI/AAAAAAAAEMo/7_mWfLvtch0q4XGt8uJA0qgY8X2dv_NIACK4BGAsYHg/s72-c/seraat%2Bcenthini%2Bkompasiana.jpg
selasartutur.com
https://www.selasartutur.com/2020/05/globalisasi-dan-seksualitas-konstruksi.html
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/2020/05/globalisasi-dan-seksualitas-konstruksi.html
true
3884400824057811209
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy