Bayi di Balik Ruang Kaca

Cerita Sumir: bayi-bayi itu mengendalikan maut, bahkan mengendalikan Sang Bengis.

“Pakai maskernya, Mas, sebelum masuk klinik.”

Seorang petugas dengan pakaian lengkap, seperti astronot yang siap meluncur ke bulan, mengingatkan lelaki kumuh yang baru saja sampai di teras klinik. Ia masih terlihat kelabakan setelah peristiwa di warung kopi tadi. Tas selempangnya berayun di tangan kirinya, sepertinya ia lupa kalau bisa dikalungkan melingkari dada. Topinya yang layu hampir lepas dari cengkeraman kepala, tapi hempasan angin tak cukup kuat. Ia hanya memandang petugas, lupa apa yang didengarnya baru saja. Nafasnya masih berebut-desak di lubang hidung dan mulut.


ilustrasi oleh: Rakyatku News

“Maaf?”

“Kalau mau masuk ke dalam klinik harus pakai masker, Mas. Kalau tidak pakai, dilarang masuk, itu aturannya. Mas bawa? Kalau tidak bawa, kami sudah menyediakan di sebelah sana ... cuma sepuluh ribu saja.”

Lelaki kumuh menengok searah jari telunjuk yang menyatu dengan jari tengah petugas, membuktikan apa yang dikatakan petugas itu. Tangan kanannya merogoh kantong. Kosong. Melompong. Ia lupa, dompetnya berada di tas yang berayun di tangan kirinya.

    Baca juga: Seringai Kumis Sang Bengis

Krek .... Suara velcro tape yang merekatkan dompet. Lelaki kumuh hanya menemukan dua lembar sepuluh ribu dan dua lembar lima ribu. Sialan, batinnya mangkel. Lalu berjalan menuju yang dimaksud petugas. Membeli masker. Dus, ia pakai, dan menuju ruang tunggu.

Hati dongkol mengiringi masa antri lelaki kumuh. Sepuluh ribu memang bukan seberapa untuk pengusaha masker, tapi bagiku sepuluh ribu setara dengan menentukan pilihan hidup atau mati, sejak pelepasan paksanya dengan dompet, batin lelaki kumuh dongkol.

Ia terus menyesali selembar uang tadi, tapi segera mereda setelah ia mengingat pertemuannya dengan Sang Bengis. Tapi, mengeluarkan sepuluh ribu juga bisa memperlebar jarakku dengan Sang Bengis, imbuh batinnya. Kalbunya merinai.

“Sakit apa, Nak?”

Suara seorang renta menyambar tanya pada lelaki kumuh, yang tanpa sengaja duduk bersebelahan, hanya dipisahkan oleh satu kursi yang bertanda silang kuning.

“Ini saya mau periksa, Pak, supaya tahu penyakit saya.”

“Masih muda, tapi penyakit sendiri tidak tahu.” Seorang renta terkikih, bermaksud mengajak becanda lelaki kumuh, tapi sedikit meledek. “Kalau tua seperti saya, itu baru periksa,” lanjutnya.

Lelaki kumuh kembali jengkel, yang sebelumnya sudah tenang. Ia tak membalas seorang renta.

“Dulu, sedari muda, saya tidak pernah periksa ketika ada keluhan. Saya selalu meniteni sendiri apa yang terjadi dengan tubuh saya. Kapan lagi mengenali tubuh sendiri dan mencari obat sendiri?” seorang tua menyambung omongannya. Dari cara bicaranya, ia ingin berbagi cerita.

Lelaki kumuh hanya melirik. Kalimat seorang renta sebelumnya masih menyisakan dongkol di hatinya.

“Kalau sudah tua seperti ini, saya jadi tahu kapan tubuh saya harus diserahkan. Tentu itu berkat pemahaman kepada tubuh sendiri sedari muda. Coba lihat ... ”

Seorang renta mengarahkan telunjuknya ke bagian lain klinik. Lelaki kumuh mengikuti arah telunjuk itu, bukan karena tertarik, melainkan untuk menghormati orang yang lebih tua saja. Lalu seorang renta melanjutkan ceritanya, menggambarkan apa yang ia tunjuk.

Di balik ruang kaca yang terkunci rapat, seorang bayi 9 bulan sedang memainkan jarinya sendiri. Melepaskan jari dari mulut, lalu tersenyum seperti mata kucing yang menahan kantuk. Polahnya semakin tak terkendali, tangan dan kakinya bergerak tak beraturan seperti ingin meraih bintang yang dianggapnya seperti kunang yang berterbangan sekilan dari wajahnya.

“Kasihan, bayi itu hanya meraih sia-sia,” lelaki kumuh menyela cerita seorang renta.

“Kau sudah pernah menanyainya tentang apa yang ia raih?”

Lelaki kumuh menggeleng, ia merasa memberikan pertanyaan tersebut kepada bayi adalah hal yang sama sia-sianya.

“Bayi itu sadar apa yang ia raih dan apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi,” seorang renta melanjutkan.

Tangan dan kaki bayi itu terus bergerak tak beraturan. Kali ini ia tertawa, meluapkan apa yang baru saja ia raih dan menyambut apa yang sebentar lagi akan mendatanginya. “Bayi itu telah meraih kebahagiaan,” jelas seorang renta, “Aku pernah bertanya kepada beberapa bayi, dan jawabannya selalu sama.” Di ruang berkaca itu, tempat isolasi itu, bayi itu sadar bahwa sebentar lagi maut menjilatnya. Setiap bayi di ruang itu mafhum, bahwa mereka belum lama hadir di bumi—bahkan merasakan tanah dengan kaki—dan tak lama lagi ia akan kembali ke pangkuan langit. Maka, tak ada saat lain mengenyam waktu bumi selain segera, walaupun berkecambuk dengan kematian yang di depan mata.

Mata lelaki kumuh nanar menghadap bayi di ruang berkaca setelah mendengar kisah seorang renta. Di pandangan lelaki kumuh, bayi itu masih menyabitkan tawa, seorang diri.

“Bayi adalah makhluk yang diberi tahu kapan maut menjemput, kapan hidup meredup. Namun, ingatan itu dilupakan setelah umur membawanya mengetahui nikmat bumi. Bayi dewasa melupakan jadwal maut, bahkan tidak tahu kapan tubuhnya menderita, kapan menentukan bahagia.”

“Lalu bagaimana bayi tak berdosa itu mati? Apakah Sang Bengis menyabit nyawanya tepat di leher?” tanya lelaki kumuh tanpa memperhatikan yang diberi pertanyaan. Ia tetap menatap-ratap si bayi.

Seorang renta melanjutkan kisahnya. Sang Bengis tidak pernah menyentuh bayi-bayi yang sekarat, dan ia tak cukup nyali menyabit nyawa bayi. Si bayi mencabut nyawanya sendiri, tanpa rengekan. Sedangkan Sang Bengis hanya menyaksikan pertunjukan pelepasan ruh dari batang berdaging tersebut. “Kau tahu apa yang dilakukan Sang Bengis ketika menyaksikan pelepasan ruh bayi?” tanya seorang renta pada lelaki kumuh, disambut dengan dua kali kibasan kepala. “Sang Bengis meneteskan air mata rupa sinar di balik tudung gelapnya, tak ada ekspresi wajah, semua nampak gelap datar,” lanjutnya.

Lelaki kumuh semakin jauh merasuki jiwanya sendiri, terjebak dalam kegamangan jiwanya. Satu pertanyaan terbesit, lalu ia lontarkan, “Dari mana kau dapatkan kisah itu, Pak?” Matanya masih terpaku pada tubuh bayi tadi. Baru saja tubuh bayi itu kehilangan gerak, tangan dan kakinya berlabuh pada kain seperti sudah meraih apa yang diinginkannya. Kaku. Petugas klinik bergegas menjalankan tugas masing-masing. Sebagian yang tak mendapat tugas menyaksikan tubuh mungil terbujur kaku di balik ruang berkaca, air mata mereka tumpah kemudian membasahi masker.

Tapi, ada yang belum tuntas di benak lelaki kumuh. Pertanyaannya belum dijawab oleh seorang renta.

Jemala lelaki kumuh menoleh, mencari seorang renta sekaligus jawaban yang terkunci di dalam mulutnya. Namun, lelaki kumuh tidak menemukan seorang pun di bangku deret yang ia duduki. Seorang renta yang semula persis duduk di sebelahnya hilang tak berbekas. Lelaki kumuh memutar kepalanya 360 derajat, melempar pandangannya ke sela-sela lorong klinik. Tetap, ia tak menemukan seorang renta.

Wajah lelaki kumuh dihinggapi melongo, seperti mendapati kerentek di hatinya. Merangkai celotehan orang-orang yang pernah bercengkerama dengannya, celoteh tentang Tukang Kaba yang menjinakkan maut di pundaknya.

Apakah seorang renta itu tukang kaba? Atau, ia Sang Bengis yang menyamar sebagai tukang kaba? Lelaki kumuh tenggelam dalam wabah ganar.

 

Mranggen, 6 Juli 2020

 

 


COMMENTS

BLOGGER
Name

Agama,5,ahmadiyah,2,Buku,2,Ceramah,1,Cerpen,24,Donna Haraway,1,ekologi,2,esai,22,feminisme,1,fiksimini,4,G30S,1,Gallery,2,Ganja,2,gender,16,HOS Tjokroaminoto,1,hukum,1,Ilyas Husein,1,komunisme,1,Lapor,3,minoritas seksual,1,new normal,1,Opini,1,pascakolonial,1,Pembantaian,1,Pendidikan,2,perempuan,6,petani,1,PMII,1,politik,3,puasa,1,Puisi,3,Ratna Triwulandari,3,resensi,3,Rizka Umami,1,Sejarah,5,seksualitas,1,Selasar,18,Sosok,5,syiah,1,Tualang,1,
ltr
item
selasartutur.com: Bayi di Balik Ruang Kaca
Bayi di Balik Ruang Kaca
Cerita Sumir: bayi-bayi itu mengendalikan maut, bahkan mengendalikan Sang Bengis.
https://1.bp.blogspot.com/-wAjr5DxkqgQ/XwMr2p5O65I/AAAAAAAAEo8/2li3s5I6pOQI8lWBYyLvnnqf4WJs4L0yACLcBGAsYHQ/w400-h266/img_524_349_Ilustrasi_bayi_strasi_bayi.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-wAjr5DxkqgQ/XwMr2p5O65I/AAAAAAAAEo8/2li3s5I6pOQI8lWBYyLvnnqf4WJs4L0yACLcBGAsYHQ/s72-w400-c-h266/img_524_349_Ilustrasi_bayi_strasi_bayi.jpg
selasartutur.com
https://www.selasartutur.com/2020/07/bayi-di-balik-ruang-kaca.html
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/2020/07/bayi-di-balik-ruang-kaca.html
true
3884400824057811209
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy