Menghadirkan Tafsir Alternatif dalam Forum Dakwah

dakwah harus bisa mengakomodasi kelompok rentan dan minoritas. salah satu jalannya dengan tafsir alternatif.


Dakwah, agaknya sekarang ini term tersebut menjadi acuan seseorang dalam menimba pengetahuan seputar keagamaan. Figur ustad, kiyai, pendeta atau romo merupakan syarat forum dakwah bisa berjalan. Mereka yang berada di depan panggung merupakan sosok yang memiliki otoritas dalam menyampaikan sepotong tema.

Ilustrasi: YIFoS Indonesia

Berkat otoritas yang dimilikinya itu, tak jarang jamaah mengiyakan apa yang dibicarakan pendakwah tanpa mengolahnya. Baik itu kebaikan, kebencian, arahan untuk melakukan kekerasan, penghinaan, bahkan ancaman pembunuhan, semua ungkapan dalam dakwah itu bisa dikonversi jamaah menjadi tindakan. Hal itu terjadi karena pendakwah menyelipkan ayat dalam setiap argumen atau opini. Artinya, otoritas pendakwah terjaga karena ia menggunakan teks agama untuk melegitimasi argumen.

Di sinilah nampak kebatilan sebuah forum dakwah. Kedatangan jamaah ke forum dakwah bukan lagi mengambil hikmah, melainkan kedatangannya untuk mengais bara dan melemparkannya kepada liyan.

Forum dakwah seperti itu rasa-rasanya seperti pertunjukan sirkus tafsir. Sebab, pendakwah mengikat leher teks agama menggunakan otoritasnya untuk selalu membuntuti libido kebenciannya. Sehingga yang nampak dalam penggunaan teks bukan otoritatif, melainkan otoriter-eksploitatif.

Dalam perjumpaan webinar Dakwah Dalam Cinta (27/7), Ageta sebagai fasilitator, menyatakan tafsir alternatif harus diciptakan untuk menciptakan ruang aman. Arti dari tafsir alternatif berbeda dengan konter-tafsir yang terkesan konfrontatif dan—di zaman serba overdosis ini—berpotensi konflik. Tafsir alternatif adalah usaha menafsirkan teks tanpa menyinggung pendapat dan identitas yang berlawanan.

    Baca juga: Ceramah: Antara Pesan Moral dan Teror, Keduanya Sama Saja

Misalnya dakwah yang mengaitkan kelompok LGBT dengan surat al-Ankabut ayat 28-35, al-A’raf ayat 80-82 sebagai kelompok yang dihukum oleh Tuhan, sehingga kehdirannya di bumi menjadi haram. Tafsir alternatif menyikapi hal itu dengan menghadirkan tafsir yang membawa suasana sejuk, yaitu dengan mendialogkan ayat dengan subjek agar dapat mengakomodasi minoritas seksual di dalam ruang agama.

Lebih lanjut, masih menurut Ageta, tafsir era modern bercirikan pendekatan historis-kritis, yaitu penafsiran dengan mengungkap bagaimana kondisi sosial-budaya ketika ayat itu turun. Penafsiran adalah seni memahami teks dan dunia di balik teks, sehingga berusaha juga untuk memahami penggunaan bahasa, kondisi sosio-psikologi penulis/penafsir. Tafsir era modern dirasa belum cukup untuk mengakomodasi kelompok minoritas.

Ageta menunjukkan tafsir modern yang mengalami perkembangan di era posmodern, yang melibatkan pembaca dalam kepentingan tafsir. Mengacu Gadamer, teks harus dilihat siapa penafsir dan bagaimana budaya di belakangnya, lalu bagaimana perjumpaan horizon teks dengan horizon pembaca. Pada perjumpaan antar-horizon inilah penafsiran kembali terjadi, sebab perbedaan horizon (budaya, psikologis, biologis, sosiologis) pembaca dengan horizon teks mengharuskan penyesuaian pembaca tafsir terhadap teks.

Sejalan dengan Paul Ricoeur, tafsir adalah usaha menerobos jarak budaya pembaca dan teks, maka bukan hanya teks yang ditafsir tapi juga pembaca teks. Ini menyaratkan tafsir harus mengedepankan subjektifitas, bagaimana seseorang menyikapi sebuah tafsir.

Misalnya tafsir soal ibadah yang oposisi biner; di mana cara, aurat, dan pakaian dalam beribadah ditentukan oleh jenis kelamin. Tafsir tersebut tidak mengakomodasi transgender yang memiliki ekspresi gender-seksual berbeda dengan jenis kelamin. Maka tidak akan nyaman jika seorang ber-penis tapi mengidentifikasi diri sebagai prempuan dipaksa untuk beribadah mengikuti cara laki-laki.

Salah satu usaha tafsir akomodatif perihal ibadah telah dilakukan antara Universitas NU Jepara dengan Pesantren Waria Yogyakarta. Usaha tersebut diabadikan dalam tesis Hary Widyantoro yang berjudul Rethinking Waria Discourse in Indonesia and Global Islam: the Collaboration between Nahdlatul Ulama Islamic University Activists and Waria Santri (2015). Hasil dari kolaborasi tersebut adalah terciptanya fiqh waria yang membahas soal peribadahan.

Tafsir alternatif ini menjadi penting karena, menurut Ageta, tidak semua pembaca teks bisa memiliki kesempatan yang sama dalam berdialog dengan teks. Seperti contoh transgender di atas, previledge (dalam hal ini gender dan seksualitas) seseorang mempengaruhi tingkat akses terhadap teks. Ada semacam garis demarkasi antara tubuh kedirian dengan teks yang menghambat proses dialog. Oleh karenanya, transgender dianggap tidak otoritatif menafsirkan teks hanya karena dia tidak laki-laki atau perempuan, bahkan perempuan sekalipun perlu perjuangan ekstra untuk mengakses tafsir atas tubuhnya.

Dengan demikian, tasir alternatif berusaha keluar dari ortodoksi, dan berfusngsi sebagai pembatas atas hegemoni budaya. Peranannya adalah untuk mengkonstruksi isu-isu terkini, menggunakan pendekatan inklusif; merawat keragaman perspektif; sehingga menghasilkan keadilan.

Namun kita perlu mengakui, bahwa untuk menghadirkan forum dakwah yang inklusif dengan tafsir alternatif tidak semudah meniup kapas, terlebih menyuarakan tafsir yang mengakomodasi keragaman seksualitas dan gender. Jangankan menghadirkan forum dakwah ragam seksualitas-gender, sekedar ngerumpi saja tidak terjamin keamanannya.

Bagaimanapun, pesimisme tidak akan merubah keadaan, sebaliknya ia akan memperunyamnya. Model dakwah bisa dihadirkan dengan bentuk apa saja, termasuk dakwah dalam media sosial.

Kenapa dakwah dalam media sosial itu perlu?

Sebagaimana sudah dikonsepkan oleh Donna Haraway dalam A Cyborg Manifesto: Sience, Technology, and Socialist-Feminism in the Twentieth Century (1991), bahwa cyber space adalah ruang aman bagi minoritas untuk beraktivitas. Di sana pula individu dengan ragam seksualitas-gendernya bisa bersuara secara subjektif, termasuk membicarakan tafsir alternatif. Aman di sini maksudnya adalah terhindar dari serangan fisik jika terjadi konflik, dan bisa menyembunyikan identitas asli di balik akun.

    Baca juga: Donna Haraway: Cyborg dan Lamunannya tentang Ide Feminis yang Utopis

Nurul, sebagai fasilitator kedua dalam webinar, menyatakan perlunya memaksimalkan medsos untuk berdakwah. Hal tersebut karena medsos kini sudah menjadi wahana bagi semua orang untuk beraktivitas laiknya dunia nyata. Dan, dakwah-dakwah yang sebelumnya hadir secara fisik kini sudah berbodong-bondong membuka diri di dunia maya. Ini menandakan dakwah yang diskriminatif juga tersebar di dunia maya, dan potensi penyebarannya semakin meluas karena kemudahan akses melewati ruang dan waktu.

Nurul membuka data wawasan, bahwa stigma terhadap minoritas seksual menempati posisi pertama. Mereka dianggap sebagai ancaman, merusak moral, telah dilaknat oleh Tuhan, dan berbagai tuduhan-tuduhan yang mendevaluasi kemanusiaan. Dan diskriminasi itu juga berlangsung di dunia maya, seperti pemblokiran akses informasi, hacking, cyber-bullying sampai kekerasan gender berbasis online. Artinya baik di dunia maya maupun di dunia nyata, minoritas seksual telah dilanggar hak-haknya: hak berserikat, hak atas informasi, hak layanan kesehatan, hak menyuarakan pendapat.

Aktor-aktor yang melanggengkan diskriminasi gender tersebut, lanjut Nurul mengutip data LBH, antara lain: individu/organisasi keagamaan, politisi, institusi pendidikan, psikolog/dokter, polisi, hakim konstitusi. Dan ini menjadi memprihatinkan, ketika agama yang didakwa sebagai penyebar rahmat nyatanya memuncaki data pelaku diskriminasi. Tentu itu bukan salah agama semata, melainkan ada intervensi tafsir yang kolot dan ortodoksi sebagai legitimasi diskriminasi.

Keterlibatan agama dengan tafsirnya itulah yang menyebabkan minoritas seksual krisis kepercayaan (agama). Sebab, agama bukan lagi hadir dengan wajah rahmat, melainkan wajah penyiksa dan penghukum, menghilangkan ruang aman.

Terakhir, Nurul menyoroti penyebab narasi dakwah di medsos cenderung diskriminatif. Pertama, kurangnya perspektif gender dalam konten keagamaan. Kedua, menggunakan perspektif gender namun tidak mengutip teks agama. Ini menunjukkan obsesi masyarakat terhadap kehadiran teks di segala lini kehidupan. ketiga, menggunakan narasi gender dan mencantumkan teks, tapi masih terbatas oposisi biner (laki-laki-perempuan), sehingga tidak mengakomodasi minoritas seksual-gender.

Menurut Nurul, “teks tidak berubah, tapi realitas berubah. Karenanya teks bisa menyesuaikan keadaan zaman. ke Bukankah Alquran itu shalih li kulli zaman wa al-makan?” Agaknya statement terakhir ini berkaitan dengan tafsir alternatif yang disodorkan Ageta, yaitu mengedepankan subjektifitas (pembaca teks) untuk bisa membuktikan Alquran bisa beradaptasi dengan keadaan dan situasi apapun. Seperti Mengakomodasi pengalaman transgender bersama tubuhnya dalam membaca teks agama, agar Alquran benar-benar bertempat dalam keadaan apapun, sekalipun di tubuh transgender.

    Baca juga: Jalan Spiritual Menjadi Transgender

Seperti makna kerajaan Allah ke bumi dalam Kristen, menurut Ageta, yaitu menghadirkan sifat kasih Allah tersebar di bumi dengan cara kita menebar kasih kepada semua tanpa melihat seksualitaas-gendernya. Dengan begitu kerajaan Allah telah hadir di bumi. “Sama halnya dengan makna islam rahmatan li al-alamin,” pungkas Nurul.[]


COMMENTS

BLOGGER
Name

Agama,4,ahmadiyah,1,Buku,2,Ceramah,1,Cerpen,23,Donna Haraway,1,ekologi,2,esai,20,feminisme,1,fiksimini,4,G30S,1,Gallery,2,Ganja,2,gender,15,HOS Tjokroaminoto,1,hukum,1,Ilyas Husein,1,komunisme,1,Lapor,3,minoritas seksual,1,new normal,1,Opini,1,pascakolonial,1,Pembantaian,1,Pendidikan,2,perempuan,5,petani,1,PMII,1,politik,3,puasa,1,Puisi,3,Ratna Triwulandari,3,resensi,3,Rizka Umami,1,Sejarah,5,seksualitas,1,Selasar,17,Sosok,5,Tualang,1,
ltr
item
selasartutur[dot]com: Menghadirkan Tafsir Alternatif dalam Forum Dakwah
Menghadirkan Tafsir Alternatif dalam Forum Dakwah
dakwah harus bisa mengakomodasi kelompok rentan dan minoritas. salah satu jalannya dengan tafsir alternatif.
https://1.bp.blogspot.com/-5CRxnMANh1E/Xx-N_uhgUEI/AAAAAAAAEuc/RzvEQ7BCm7AFTKiRLhS55FQNaQ_NLlVPwCLcBGAsYHQ/s320/sidharta-and-deva.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-5CRxnMANh1E/Xx-N_uhgUEI/AAAAAAAAEuc/RzvEQ7BCm7AFTKiRLhS55FQNaQ_NLlVPwCLcBGAsYHQ/s72-c/sidharta-and-deva.jpg
selasartutur[dot]com
https://www.selasartutur.com/2020/07/menghadirkan-tafsir-alternatif-dalam.html
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/2020/07/menghadirkan-tafsir-alternatif-dalam.html
true
3884400824057811209
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy