Perempuan Pemegang Lonceng Maut

Perempuan Itu menggenggam lonceng di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya untuk menepuk bahu korban maut


Tangan kirinya menggenggam bedak, bersambut tangan kanan menjumput alas bedak lalu menyapu permukaan wajah. Ia melakukannya setiap hari di teras kontrakan, menghadap satu-satunya kaca yang sudi memantulkan wajahnya: kaca jendela.


ilustrasi: lukisan "Aku dan Istriku Karmini di Lonceng Kedua" karya Hendra Gunawan, lukisan.id

Maria namanya, seorang buruh loyal di salah satu pabrik rokok. Wajahnya lebih sering berminyak daripada kering bedak. Gaya bicaranya membius setiap pendengar, seakan mereka terlelap di pangkuannya. Bunga-bunga yang berada di pelataran kontrakannya memicu imajinasi pejalan yang melewatinya: kontrakan itu seperti taman Argasoka, tempat Shinta disekap.

Namun ada pandangan miring dari beberapa orang di kampungnya; baik laki-laki atau perempuan, berumah-tangga atau belum, dewasa atau sepantaran, beberapa dari mereka menganggap Maria sebagai perawan jalang, yang tiba-tiba muncul di kampungnya.

Entah karena apa, yang jelas bukan karena menggoda suami orang. Lagipula gaya ceplas-ceplosnya membuat lelaki seperti dalam sangkar. Bukan juga karena sering gonta-ganti lelaki, karena siapapun selalu mengangguk setelah mendapat penjelasan kalau lelaki yang dibawa Maria hanya rekan kerja.

“Saya sepakat kalau lelaki itu hanya berteman. Bisa terkutuk lima turunan kalau sampai dia memperistrinya.” Selorohan itu sering keluar setiap muncul lelaki baru di kontrakan Maria.

Perawakan Maria sedikit tambun; wajahnya putih bedak bagoran. Lengan kirinya bergelang emas yang dipaksakan, karena sebenarnya hanya logam biasa. Cara berjalannya seperti enthog. Walaupun natural, orang-oranng tetap menganggap itu sebagai bencana.

“Kalau kita melihat dari depan, itu akan menjadi kutukan” kata para lelaki pengangguran ketika melihat Maria berjalan ke arah warung kopi tongkrongan mereka. “Tapi kalau dari belakang, itu menjadi anugerah, karena wajah buriknya tergantikan oleh bodi biola dan rambut lurus bersemir merah di setiap ujungnya,” lanjut mereka ketika Maria berjalan membelakangi warung kopi.

Maria tak mempedulikan gunjingan itu. Ia masih mantap bahwa para penggunjing selalu menantikan lanjutan ceritanya setiap Sabtu sore. “Mereka itu seperti bayi yang merengek minta tetek. Setelah mendapatkannya, suara mereka hilang bersama puting yang diulumnya,” gumam Maria setiap melewati gerombolan serigala tanpa taring itu.

***

Di depan kontrakannya sudah berkerumun delapan sampai tigabelas orang. Seperti biasa, mereka menantikan sambungan cerita sebelumnya.

“Pekan lalu, sampai di mana cerita kita?”

“Perempuan Pemegang Lonceng Maut,” sahut salah seorang dalam kerumunan. Suaranya selembut knalpot motor dua tak.

Maria mengingat penggalan cerita terakhirnya. Lalu mulai membual setelah ingatannya penuh.

Soal perempuan pemegang lonceng maut. Ia bukan sosok yang misterius, bukan juga dengan peringai kejam. Perempuan itu tidak pula muncul di malam hari atau pada setiap gelap. Ia mucul di saat terang, dari saat sinar menyemburat sampai meredup lusuh. Tangan kirinya memegang lonceng perunggu dengan gambar sabit yang timbul di punggung lonceng. Sedangkan tangan kanannya, ia gunakan untuk menepuk bahu seseorang yang akan ia ingatkan perihal maut.

Perempuan itu tidak bertudung jubah. Ia berpakaian seperti orang-orang urban, hanya saja ia sering tidak disadari oleh awam. Sebab, lonceng yang menjadi tanda tidak selalu berada di genggaman.

Orang-orang lampau selalu memeriksa pasangannya, isterinya, pacarnya, selingkuhannya, gundiknya setiap mendengar kisah perempuan itu. Jangan-jangan perempuan itu adalah orang terdekatnya. Tapi, belum ada laporan teranyar tentang gambaran perempuan itu. Maksudnya, belum ada yang sampai berhasil meloloskan temuannya itu untuk disampaikan ke publik. Tepukan maut selalu membarengi takdir.

“Tenang, kalian perlu bersyukur—khususnya para laki—karena aku pernah berjumpa dengannya ...,” jelas Maria sejenak merehat cerita. Meraih segelas air di sampingnya. Dua tegukkan. Lalu melanjutkan, “... Jadi kalian bisa waspada, atau paling tidak segera merubah laku.”

Meskipun orang biasa, perempuan itu memiilki beberapa hal ganjil yang membuatnya menjadi istimewa. Ia pernah merasakan alam fisik dan ruh. Kata perempuan itu, dirinya sempat berkelana di angkasa tak bertuan. Baginya, alam ruh sama-sama memuakkannya dengan alam fisik.

Suatu ketika ia bersimpuh di hadapan Sang Pasung di bangsal sejuk. Perempuan itu heran, kenapa ia tiba-tiba berada di sana. Sedangkan di seberang, ia menyaksikan para perempuan yang ditelanjangi, kaki dan tangan mereka terbelenggu rantai; mereka berbaris di depan gerbang api yang berkobar, menunggu giliran masuk. Lain halnya di bangsal sejuk, ia melihat para lelaki dengan penis yang dikipat-kipatkan pada lubang bergerigi tajam tak bertubuh. Wajah mereka getir menahan sakit dan risih untuk menangis, sambil mengingat kepalsuan janji yang mereka dengar-dan-khotbahkan ketika di alam fisik. Tapi mereka tetap menyeringai, daripada harus berbaris di depan gerbang dengan kobaran api.

“Kau adalah perempuan suci yang direnggut oleh lima lelaki di pematang sawah. Tubuhmu yang ringsek kini kokoh kembali,” kata Sang Pasung menjelaskan asal-muasal.

Perempuan itu tak terkagum dengan restorasi tubuhnya. Ia malah meminta kepada Sang Pasung untuk membebaskan belenggu para perempuan yang berbaris itu. Namun, Sang Pasung tidak dapat memenuhi permintaannya, itu terlalu baik. Ia mengumpat, buat apa menjadi suci jika tak mampu membebaskan belenggu.

Umpatan perempuan itu terdengar oleh Sang Pasung. Lalu ditimpali, “Kau boleh mengajukan satu permintaan yang bisa ...,” kalimatnya terpotong.

“Kembalikan aku ke dunia,” sergap perempuan itu dengan urat wajah yang menegang.

Sang Pasung memenuhi permintaan itu. Hanya saja, ia kembali ke dunia sebagai perempuan pengingat maut, dengan bekal lonceng yang hanya berbunyi ketika ia berdekatan dengan seorang yang mautnya sudah dekat. Namun, perempuan itu tidak dibekali bahasa yang dapat membahasakan peringatan maut telah dekat. Itulah mengapa ia gunakan tangan kanannya untuk menepuk bahu seorang yang hampir dihinggapi maut. Bermain sandi. Isyarat. Jadi, bukan lonceng yang menjadi tenger perempuan itu, tapi tepukan tangan kanannya.

***

Kentongan dan bedug mendengung dari langgar. Maria memenggal cerita yang mula-akhirnya hanya ia ketahui sendiri, atau mungkin ia sendiri yang merangkainya.

“Ah, bualanmu sore ini berhasil membuatku waspada. Tapi aku tidak akan terkecoh,” ucap seorang lelaki yang sering menggunjing Maria di warung kopi, sebelum akhirnya membubarkn diri.

“Maka waspadalah!” balas Maria memperingatkan lelaki itu.

Raut muka lelaki itu berubah setelah tangan kanan Maria berlabuh di bahu kirinya, dari wajah yang semula sinis menjadi layu kucing yang disepak majikannya. Lalu hengkang bersama gidik yang tidak bisa ia sembunyikan.[]

 

Mranggen, 20 Juli 2020


COMMENTS

BLOGGER
Name

Agama,4,ahmadiyah,1,Buku,2,Ceramah,1,Cerpen,23,Donna Haraway,1,ekologi,2,esai,20,feminisme,1,fiksimini,4,G30S,1,Gallery,2,Ganja,2,gender,15,HOS Tjokroaminoto,1,hukum,1,Ilyas Husein,1,komunisme,1,Lapor,3,minoritas seksual,1,new normal,1,Opini,1,pascakolonial,1,Pembantaian,1,Pendidikan,2,perempuan,5,petani,1,PMII,1,politik,3,puasa,1,Puisi,3,Ratna Triwulandari,3,resensi,3,Rizka Umami,1,Sejarah,5,seksualitas,1,Selasar,17,Sosok,5,Tualang,1,
ltr
item
selasartutur[dot]com: Perempuan Pemegang Lonceng Maut
Perempuan Pemegang Lonceng Maut
Perempuan Itu menggenggam lonceng di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya untuk menepuk bahu korban maut
https://1.bp.blogspot.com/-7KLMnKfD7sA/XxYwx3bCLJI/AAAAAAAAErw/MqdKf9oLJDAVzzKYPVWNWAKJbdvU5UQoACLcBGAsYHQ/w400-h256/Aku-dan-Istriku-Karmini-di-Lonceng-Kedua-Hendra-Gunawan.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-7KLMnKfD7sA/XxYwx3bCLJI/AAAAAAAAErw/MqdKf9oLJDAVzzKYPVWNWAKJbdvU5UQoACLcBGAsYHQ/s72-w400-c-h256/Aku-dan-Istriku-Karmini-di-Lonceng-Kedua-Hendra-Gunawan.jpg
selasartutur[dot]com
https://www.selasartutur.com/2020/07/perempuan-pemegang-lonceng-maut.html
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/2020/07/perempuan-pemegang-lonceng-maut.html
true
3884400824057811209
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy