Teka-Teki Rumah Berlampu Kuning - Selasar Tutur

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Teka-Teki Rumah Berlampu Kuning

Share This


Seekor kucing putih berlari sempoyongan, dua kaki belakangnya sempat terpeleset karena perutnya yang hamil tua menghambat gesitnya. Namun ia tetap lolos dari terpaan air seember. Pemilik rumah melampiaskan amarahnya sebab pindang goreng di meja makan lenyap tak berbau. Karena hanya melihat kucing putih buncit, disalahkanlah kucing itu, tak tahu mana benar-salahnya.

Ilustrasi: pxhere.com

Setelah si Putih meninggalkan jauh pemilik rumah, ia memutuskan untuk kembali berteduh. Paling tidak ada rumah yang berkenan memberinya nutrisi.

Kedap-kedip lampu kuning menarik minat si Putih untuk mampir, sukur-sukur ada tempat layak untuk berteduh barang sebentar. Ia berjalan sangat pelan seperti waiter yang pertama kali masuk kerja. Semakin dekat, ia melihat ada kucing jantan berdiri tegap. Oren, hitam, putih; bulunya terlukis tiga warna. Si putih melihat kucing telon, ia yakin kucing itu sudah menetap lama di rumah berlampu kuning yang selalu berkedip.

Tak lama setelah ujung kaki si Putih berhasil menyentuh lantai rumah, seorang perempuan menyembul dari balik pintu. Wajahnya sedikit gelap sebab membelakangi nyala bohlam. Pergelangan tangannya terdapat bekas cengkeraman. Pipinya lebam yang semakin membiru-padam akibat tak tersiram sinar lampu.

    Baca juga: Bayi di Balik Ruang Kaca

“Oh, di sini kau rupanya, Lon.” Perempuan itu segera meraih si Telon. Mengayunkan si Telon di gendongannya. “Eh, ada si Putih. Pasti kau sengaja memancingnya kemari. Atau jangan-jangan kau yang menghamilinya?”

Si Putih didapati oleh perempuan itu. Walaupun sempat memasang kuda-kuda, si Putih akhirnya bernapas lega karena perempuan itu mempersilakannya masuk. Tak sampai di situ, si Putih juga dijamu ayam goreng yang masih utuh.

Petir menggelegar memberi tanda hujan akan turun. Hembusan angin membawa aroma tanah bercampur kembang pasir.

Menyadari perut besar si Putih, perempuan itu langsung mencarikannya tempat sementara, setidaknya tempat yang layak untuk persalinannya. Dipilihlah tempat beralas gombal daster di pojok kamar perempuan itu, bersebelahan dengan si Telon.

Benar saja, belum ada satu jam menempati ruang barunya, si Putih mengerang kesakitan, kaki mungil muncul dari kelaminnya. Si Putih melahirkan.

“Untung saja kau datang tepat waktu, Nis.” Perempuan itu memanggil si Putih dengan sebutan Nis, mungkin maksudnya si Manis. “Lihat, Lon! Temanmu—mungkin juga kekasihmu—sudah melahirkan ... satu, dua ... ada empat.”

Di mata si Putih, Perempuan itu sangat gembira bersama si Telon yang melekat-erat di gendongannya. Ia terus bicara tak henti kepada si Telon, si Putih, dan sesekali menimang empat orok si Putih yang baru lahir. Si Telon sudah terhitung menguap sembilan kali, tak memperhatikan curhatan perempuan itu. Si Putih memotret isyarat wajah perempuan itu seperti ada beban yang terhempas. Semalaman ia belum menyentuh kasurnya, hanya menyandari ranjangnya saja. Kini semakin jelas, ada beban yang berusaha disembunyikan perempuan itu.

pxhere.com

Hampir tengah malam, dan perempuan itu masih saja terjaga, belum juga menyentuh kasur, masih sama: bersandar pada ranjang. Bahan celotehnya semakin berkurang, ada raut lelah yang tak bisa disembunyikan, ada mata kantuk yang susah payah ditahan, ada gelalagat takut yang gagal dikalahkan. Si Putih terus memandangi perempuan itu, basa-basi untuk segera menyantap satu kepala ayam yang tersisa.

    Baca juga: Perempuan Pemegang Lonceng Maut

Belum sampai Si Putih meraih kepala ayam, ia dibuat sedikit terkejut oleh gerakan perempuan itu yang tiba-tiba, dengan mata nyalang-kosong. Gerakan perempuan itu adalah efek kejut dari bunyi decit pintu utama rumah. Sedangkan si Telon tetap bermalasan di tempat tidurnya, tak peduli sekitarnya.

Suara langkah kaki terdengar semakin menusuk jantung rumah. Perempuan itu langsung sigap berdiri dengan kaki yang berdenyut kencang. Tergopoh, sejenak mematung.

“Surti...! Di mana kau? Mana makan malamku?” Suara lelaki terdengar lantang. “Apa-apaan ini, hanya nasi!?”

Si Putih yang merasa asing mengerutkan tubuh ke pojok terdalam sarangnya, mengurungkan niat meraih kepala ayam. Sedangkan perempuan itu sontak mendekati asal suara, seolah Surti adalah namanya. Kakinya bergetar hebat, ia tetap memaksa berjalan dengan tangan menggenggam. Ada sesuatu di genggamannya, tapi entah benda apa.

Kemudian terdengar suara panci yang berseteru dengan tembok. Bunyi sebilah pisau terlempar ke tekel, disusul suara benda tumpul yang beradu dengan punggung manusia. Si Putih yang penasaran berjalan—sedikit berlari—menuju sumber suara. Lalu terdengar suara tubuh yang menyergap tekel, keras, menggema. Si Putih hanya menyembulkan satu mata di balik pintu kamar. Menyelidik apa gerangan yang terjadi. Ia melihat tangan yang menjulur lemas dan darah membanjiri tekel hitam, tak nampak wajah siapa.

Si Putih cekatan berlari kembali ke sarangnya, bermaksud menjemput anak-anaknya, lalu pergi. Tak ada lima jangkah dari pintu kamar, ia melihat tekel sekitar sarangnya juga dibanjiri darah. Dari kejauhan terlihat pula si Telon mengeram membelakanginya, dengan cakar yang mencengkram daging segar, di tempat ia melahirkan.

    Baca juga: Jatuh-Cinta-Cinta-Jatuh di Bangsal Kopi

Angin malam menusuk kulit si Putih. Pintu rumah nampak terbuka lebar. Tak pikir panjang, si Putih mengambil langkah seribu meninggalkan rumah berlampu kuning yang selalu berkedip. Aroma air yang menghujam tanah berhasil dihidu. Segar. Menggantikan aroma serba anyir.[]

 

Demak, 12 Agustus 2020

No comments:

Post a comment

Lontarkan komentar di sini...

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here