Catatan Penutup Kisah - Selasar Tutur

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Catatan Penutup Kisah

Share This

Aku tak punya seorang di sampingku, barang satu, untuk mendengarkan apa yang yang menjadi keluh dan peluh. Tidak ada hal lain selain umpatan dan jeritan yang mendesak keluar dari kerak tenggorokan; namun selalu terhenti di ujung bibir yang mengering.

Satu-dua orang yang pernah kucoba beri kisahku selalu menandas dengan ucapan moralis, dengan nada sadis. Mereka kira seluruh orang yang mengidap masalah bisa ditakar dengan satu ukuran mental dan moral.

ESQNews
Tak lagi-lagi aku mencoba bercerita pada siapa pun, sekalipun orang rumah atau orang yang pernah sekali-duakali pernah menerima kisahku. Semua orang akhirnya kutakar dengan satu ukuran moral: Sadis.

Tapi kini, aku sudah mulai tenang, emosi dan umpatanku berhasil kuredam setelah kutemukan apa-apa yang mampu menerima kisahku. Mereka tidak pernah menandasku—sebaliknya—melentangkan lengan dan membasuh segala peluh.

Baca juga: Teka-Teki Rumah Berlampu Kuning

Tembok kamar yang cuil serupa kurap, lantai sehangat lembah Sindoro-Sumbing, para tanaman yang kelainan fisik, gerombolan cicak yang mendecak kelaparan tanda senasib, angin bisu yang selalu gagal menembus kaus; mereka adalah kantong di mana kisahku tertampung. Tak pernah ada tandasan moral, semua yang terucap mesti tertancap, seluruh kisah lusuh selalu luruh. Lalu “Aku” menyisakan tubuh yang bersih dan siap terangkat melayang di antara mekar kembang teratai.

Dua kakiku setengah terangkat, namun gagal setelah angin bisu menampakkan kulminasi emosi tiba-tiba. Menyerang tembok dan membuat cuilannya semakin melebar, menghujam lantai yang menjadikannya sedingin beku, mengcak-acak cicak yang membelai nyamuk, menyerang tanaman yang kelainan fisik dan menjadikannya kian lain, menusuk-nusuk sadis kaus tipisku. Pada akhirnya mereka saling serang, saling hujat, berebut siapa yang paling layak menjadi kantong sejati kisahku.

“Mereka hanya mengejar prestise kesejatian, sebenarnya tak ada sedikitpun terbesit keikhlasan, apalagi membantumu melayang di antara mekar kembang teratai,” bisikan mendayu-dayu di gendang telingaku.

Aku menunduk tertatih-tatih menghindari keributan di dalam kamarku, memburu di mana bisikan itu menyembul. Mataku yang digelayuti gajah berusaha sekuat tenaga menaruh pandangan pada wadah kaleng suci di sudut meja. Sebilah pisau yang sedari awal tidak kulibatkan dalam sesi kisahku, ternyata masih kokoh berdiri menentang angin. Mata pisaunya tak sedikitpun menumpul. Kubiarkan keributan di kamarku, tak kupedulikan; sebilah pisau dalam rengkuhanku menajam.

Baca juga: Bayi di Balik Ruang Kaca

Aku melayang di atas kembang teratai sesuai janji sebilah pisau. Kutinggalkan secarik pesan di atas meja limapuluh senti, yang kutulis dengan sekuntum tumpahan darah. Kumenunggu orang yang pertamakali mengambil keputusan mendobrak pintu kamarku, dan meraih secarik pesanku. Akan kuhadiahi sekantong kisahku yang sejati.[]

 

Yogyakarta, 15 September 2020

No comments:

Post a comment

Lontarkan komentar di sini...

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here