Katakan Siapa Dalangnya! - Selasar Tutur

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Katakan Siapa Dalangnya!

Share This

“Jutaan orang hilang dan dihilangkan. Jutaan orang mati, dibunuh. Dan, celaka, kita begitu gampang melupakan mereka dan para pembunuh mereka.”

-Gunawan B. Susanto, Nyanyian Penggali Kubur.

ilustrasi GEOTIMES

Sudah berapa tahun sekarang—sejak 30 September 1965? Bagaimana orang sekarang membahas masa itu? Kita sudah tahu bahwa banyak orang dibunuh, dibuang, dihilangkan; atau, pemerintah telah melakukan kejahatan dan pelanggaran HAM luar biasa, kita harus mengabarkan kenyataan itu supaya tidak ada lagi kemanusiaan yang digilas kekuasaan.

Aktivis tahu soal itu, mahasiswa juga sudah membacanya; dosen, pemerintah, agamawan juga tidak sedikit yang mengetahui kali Tuntang berwarna merah pada hari itu; kebun tebu Jombang-Kediri yang menjadi gula darah; atau sinar rembulan yang kalah terang dengan pancaran darah pada malam hari di desa-desa. Lalu apa yang menghalangi extraordinary crime itu masih sulit diadili dan membiarkan korban dan keluarga korban terus membeli tisu setiap September?

Baca juga: Narasi Hantu PKI dan Kepayahan Beragama

Apakah isu itu terlalu elit bagi masyarakat? Kalau elit, kenapa para elit tidak segera menggarapnya? Bahkan membawa kasus itu ke Pengadilan Rakyat Internasional di Den Haag juga tak berarti banyak ketika dibawa balik ke kampung halaman.

Ah, jangankan mendapat simpati-empati, seruan “bunuh PKI” pun masih belum dianggap mengandung unsur pidana. Menggelar diskusi genosida 1965 dianggap bagian dari PKI, dianggap komunis/komunisme. Katanya ideologi terlarang, bertentangan dengan agama, tidak mengakui Tuhan; stigma itu menggelinding menjadi bola salju yang menghantam sebagian besar otak masyarakat Indonesia.

Bagaimana dengan mayat yang mengambang di kali? Bagaimana dengan airnya yang menjadi merah dan anyir? Usus yang kececeran? Leher yang ringsek? Tubuh yang remuk? Semua kejahatan itu menjadi “baik” dengan dalih: ideologi terlarang. Musnah sudah empati terhadap korban pembunuhan-pembantaian.

Demi Langit 30 September 1965 yang hitam, bukankah PKI itu partai? Bukankah ideologi itu tumbuh di kepala? Dan, bagaimana cara melarang cita-cita hidup seseorang?

Demi petani yang menggenggam cangkul, apa yang menjadi tanda bahwa mereka yang dibunuh adalah “PKI”?

Demi semut yang tenggelam oleh darah korban pembantaian, apakah memiliki gagasan hidup sejahtera tanpa penindasan bukan hal baik?

Ribuan tanda tanya hanya dijawab dengan frasa: mengancam pancasila, menganggu kesatuan negara.

Jadilah masyarakat yang mudah membenci, yang tak jarang meluka-ciderai yang berbeda. Rakitan sejarah itu telah menjadi guru dengan wajah beringas. Menuliskan para pelaku sebagai pahlawan seperti dalam film laga, dan mengganti korban menjadi figur antagonis dalam panggung sejarah.

Baca juga: Negara Salah Kaprah: Pembangunan Sebagai Instrumen Radikalisme

Kita diwarisi kebencian searah dengan aliran darah, menggumpal pada sumsum tulang. Mayarakat kita semakin masif menelurkan kebencian, menyemai kekerasan. Layar tancap dipasang di kampung-kampung, di kantor-kantor, di bioskop-bioskop untuk memupuk kebencian. Seolah-olah layar itu berbicara, “Lihatlah kekejaman mereka. Saksikan bagaimana pahlawan kalian menyelamatkan negara ini. Jangan ragu melakukan hal yang sama ketika di masa depan tercium benih-benih PKI.”

Celaka, masyarakat kita akan benar-benar melupakan siapa tokoh yang melakukan pembantaian; bahkan mereka tidak lagi menyadari pernah ada genosida di negara ini. “Itu aksi menyelamatkan ideologi bangsa: Pancasila,” begitu ingat masyarakat kita.

Kita, sebagai bagian masyarakat yang masih ingat, harus mulai membasuh wajah sejarah yang beringas itu; mulai menyusun puzzle sejarah yang berserakan hingga terungkap peristiwa 30 September dan 1 Oktober 1965 didalangi oleh tokoh yang sama. Berlandaskan literatur sejarah yang menumpuk, berdasarkan orang-orang yang dihilangkan dalam proses menumpuk literatur sejarah, tak seharusnya kita ragu untuk mengatakan kenyataan sejarah; dengan mengatakannya, berarti kita menghargai mereka yang dirubuhkan dan dihilangkan.

Kita harus mengabarkan bahwa:

Tahun 1965 telah terjadi pembantaian.

Orde Baru Dalangnya.

Suharto Otaknya.

No comments:

Post a comment

Lontarkan komentar di sini...

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here