Monolog: Diinjak Oligarki - Selasar Tutur

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Monolog: Diinjak Oligarki

Share This

Kamu harus lebih menghemat uang jajan, Nak, meskipun mencukupi. Sebab, sebentar lagi apa-apa yang kita miliki—terancam—bakal ludes tak tersisa, kecuali martabat.

sumber: geotimes

Aku sebagai bapak, harus bisa membagikan pengalaman: manis ataupun pahit. Tak lain dan tak bukan, supaya anak-anakku semakin waspada dan bersiap diri. Apalagi di zaman seperti ini, di mana palu kayu menjadi alat pembasmi masal. Ia bisa mengontrol alat keruk, bor bumi, senjata api, juga tank.

Tanah-tanah yang aku garap, yang di atasnya tumbuh tomat, cabai, padi, singkong; semuanya bisa hilang begitu saja esok pagi—seperti orang bertato zaman orba. Ini bukan pencurian atau seperti kunci yang ketelingsut; tapi perampasan yang diresmikan.

Pertumbuhan ekonomi negara akan pesat. Kehidupan rakyat akan sejahtera dan mudah mendapatkan kerja. Dan yang terpenting, kita akan menjadi masyarakat modern dan maju.

Cangkemmu, cangkem asu!

Keraskan saja umpatanmu, Nak, stok dosa sudah habis bagi kita.

Bagaimana mau maju kalo ladang tempat menanam segala yang mereka makan saja digilas rata; sambal terasi yang kata mereka segar—sambil megap-megap, tak lama lagi yang berasap di mulut mereka hanya kepulan panas batubara yang menghitam. Singkong sebagai karbohidrat alternatif juga bakal hilang, beralih menjadi serba bubuk yang berderet di pasar-pasar mewah. Malang sekali, tubuh manusia masa depan hanya rekayasa fisika-kimia.

Mampus! Mati semua mereka. Tak bisa makan, tak bisa kerja, tak bisa rapat, tak bisa menyetir negara.

...

Tunggu, tunggu ... tetap bapakmu ini yang mati dulu, Nak. Dan kamu, kamu dan ibumu akan tersiksa.

Mereka—yang katanya mewakili kita—bisa mengimpor segala sesuatu dari negara tetangga. Mereka tetap makan. Orang-orang berduit bisa makan. Setelah kenyang, penancapan beton-beton dilanjutkan lagi. Lalu tidur. Kemudian bangun. Ngeseks. Berangkat rapat, tidur—di tempat rapat. Dipungkasi dengan teriak-teriak: Demi rakyat, apapun kami lakukan. Nah bapakmu, kamu, dan ibumu bakal mati perlahan. Kita tidak akan sejahtera di atas beton yang hanya bisa dipupuk dengan duit.

Ke pabrik-pabrik itu? Yang disediakan oleh orang yang tidur di Senayan itu?

Jangan percaya dulu dengan mulut mereka yang mirip popor senjata, Nak.

Ibumu akan mati perlahan di sana, juga calon adikmu yang masih menggumpal di rahim. Ibumu akan tertatih-tatih dengan perut buncit, bimbang antara menyangga perut atau memintal benang. Belum lagi jika harus menyeka darah haid, nifas; dua tangannya tak cukup membendungnya, sedangkan pembalut bukan menjadi tanggungjawab pemilik pabrik.

Ibumu akan terus dipaksa bekerja, dengan beban menggunung dan upah rendah. Sedangkan adikmu yang masih di perut itu, yang ikut bekerja dengan ibumu; ia tidak masuk dalam nilai ekonomi. Makanan bergizi dan kebutuhan protein tidak difasilitasi. Kita juga tidak bisa menyediakan secara mandiri, sebab sawah kita bakal digusur esok hari—bisa jadi malam ini ketika sedang merajut mimpi.

Maut sudah memesan kursi di tempat-tempat tak terduga: mungkin terpeleset di kamar mandi, di tangga, atau ketika berangkat kerja. Kalau ibu dan adikmu tergelincir—kecelakaan, pemilik pabrik akan bilang: itu bukan tanggungjawab saya. Urus saja sendiri rahimmu. Kau kan pemiliknya.

...

Asal kamu tahu, Nak, ibu dan calon adikmu tidak boleh istirahat di rumah ... kau tahu demi apa? Demi pertumbuhan ekonomi negara.

NEGARA BRENGSEK, tepatnya.

Ya, benar, maut sudah berada di depan kita, dan mereka yang memesannya—mereka yang memakai dasi dan pakaian penuh manipulasi—untuk kita.

Jangan putus asa. Kita harus bersiap diri, mengencangkan rangkulan untuk membentengi rumah reyot ini. Sepetak tanah terakhir kita harus dipertahankan, menyiraminya dengan darah lebih bermartabat, dari pada mencium derap kaki mereka yang penuh darah keparat.

Sekarang tidak ada lagi pertanyaan: siapa yang bisa kita harapkan? Siapa yang menampung angan-angan kita?—tidak ada. Hanya kita sendiri yang bisa diharapkan dan mewujudkan segala harapan. Jangan anggap aparat-aparat itu datang ke sawah atau pabrik untuk melindungi kita, membentengi kita ketika menyusun fragmen-fragmen mimpi.

Lihat, ikatan di leher aparat yang sangat kencang, lebih kencang dari pada anjing pitbull. Mereka siap mengejar tulang yang dilemparkan ke sawah, jalan-jalan yang dipenuhi demonstran, di depan gerbang pabrik; lalu mencabik-cabiknya, menggigit dengan mulut yang beraroma penjilat, dan menghajar sampai mampus sesuai orderan pelempar tulang.

Nak, kita harus kuatkan rangkulan.

Hanya martabat yang mampu terus memompa darah kita ke jantung. Meski diinjak oligarki, harkat kita harus diangkat: berdiri dengan kaki sendiri, bukan kaki oligarki.

 

Yogyakarta, 6 Oktober 2020


No comments:

Post a comment

Lontarkan komentar di sini...

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here