Puisi-Puisi Rizka Umami - Selasar Tutur

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Puisi-Puisi Rizka Umami

Share This

Tentang Negara dan Hutangnya

 

Lalu aku bertanya padamu

Apa duit beasiswa mesti kembali ke Negara?

 

Buat apa, Dik?

 

Kudengar Negara banyak hutangnya

 

Apa itu jadi itikad baik?

 

Kalau sudah masanya aku jadi pekerja

Punya gaji, tunjangan dan laba

Aku, mesti kembalikan beasiswa ke Negara

 

Tapi apa kita sedang berhutang?

Bukannya 'Pendidikan adalah hak' anak bangsa?

 

Dik, kukira ada harga yang harus kau bayar atas jasa Negara

-membayarkan hutangnya.

 

 

Nyinyir

 

Ia mengoceh

Suara-suara berseliweran

di sepanjang tempat nongkrongnya

 

kepulan asap saling adu sekalian bersaksi

“tidak ada dosa di antara kami.”

Tapi laki-laki bersarung sedengkul itu nyinyir lagi

 

Manusia-manusia saling melempar pandang

di tengah caci maki si bapak tua

yang cerutunya juga terjepit di antara jari-jari tangan kirinya

 

ia mengoceh sambil jalan

balik arah dan menuju kami yang mematung pasrah

 

ia menghujan tanpa enggan

di hadapan perempuan-perempuan yang memikul asap tanpa segan.

 

2020

 

 

Yang Lahir dari Suaramu

 

Ada gerak-gerak yang makin gesit

Melesat melewati tubuhmu malam itu dan suara memekik

Berbondong-bondong orang mengantre

Mencari apa-apa yang terjadi

Menelisik, membuka gagang telinga mencuri dengar

            dan mendekat penasaran

 

Ada yang keluar dari suaramu malam itu

Melepas wajah pucat

yang bukan kau dari belakang kepalamu

dan berlari gesit meninggalkan perang saudara antara kau dan aku

 

ia keluar dari suaramu yang memekik ngilu

dari kaki-kaki yang berontak dan dada yang melepuh

ia lahir sendiri dan beratus-ratus

            jabang-jabang kebencian.

 

2020

 

 

Jika Kematian Semakin Dekat

 

Jika kematian semakin dekat

Mestinya ada alasan

Melakukan segala

 

Memenuhi panggilan

Melunasi piutang

Kawin

 

Jika kematian semakin dekat

Harusnya kita punya segera

Meski pagi atau petang

 

Kita punya rencana

Memenuhi segala

Bersulang.

 

 

 

Kekanak di Loteng

 

Dongeng-dongeng ibu itu palsu

Tidak ada putri tidur atau perempuan penyihir, loteng berhantu

Semua cerita dibuat sebagai prasyarat

 

Aku membereskan mainan dan kembali ke loteng tanpa bertanya

Tapi dongeng-dongeng itu memaksa meninggali loteng lebih lama

Semasa hidup yang sendu dan tanpa bapak ibu

 

Ini adalah tempat rahasia laci-laci berisi cerita dan sarang

bagi laba-laba yang bisa bicara kita melihatnya bermain

 

Pertama ibu yang jaga kau cari tempat dan tunggu

Ibu berjanji menemukanmu, janji

 

Tapi aku sembunyi dan abadi. []


Note: sumber lukisan ©2012 Merdeka.com/odditycentral.com



____________________________________

Selasar Penulis

Rizka Umami
Perempuan asal Tulungagung, sedang bergairah menjadi mandor. Tolong sapa via twitter: @morfo.biru


No comments:

Post a comment

Lontarkan komentar di sini...

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here