Hibriditas Petani Perempuan dan Mode Perlawanan Feminisme Pascakolonial

Berkerudung bisa jadi bentuk pendisiplinan, tapi itu juga bisa jadi lumbung perlawanan.

Ilustrasi: yu Patmi - petani Kendeng yang meninggal ketika aksi pengecoran kaki di Jakarta/Lukisan Dewi Candraningrum

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari artikel berjudul Kerudung Petani: Kekangan atau Alat Perlawanan?

Frantz Fanon merupakan salah satu orang yang getol menyadarkan masyarakat Dunia Ketiga untuk menolak wacana kolonial, yang bertujuan membentuk hierarki budaya dan melanggengkan rasisme. Barat dengan perangkat modernisasinya berusaha menghegemoni Dunia Ketiga melalui, salah satunya, pembangunan (industrialisasi); dan itu sebagai ciri budaya tinggi, sebagai tolok ukur keberadaban.

Wacana tersebut merupakan bentuk neo-kolonialisme bagi negara-negara bekas jajahan. Mereka (kita) belum merdeka, meskipun kemerdekaan sudah diproklamirkan. Dalam artian, setiap lorong budaya kita dipengaruhi oleh negara bekas penjajah, yang membuat mereka bisa mengontrol negara kita tanpa melakukan invasi.

Ada dua bentuk kolonialisme yang perlu saya sorot dalam pembahasan ini. Pertama, diskursus pembangunan tambang pasir besi (industrialisasi); kedua, diskursus feminisme atau gerakan perempuan.

Saya mengulik diskursus yang pertama, tentang kampanye kesejahteraan dan penyelesaian masalah daerah Kulon Progo yang dianggap sebagai daerah tandus dan meyumbang ekonomi terendah se-DI Yogyakarta. Solusi yang ditawarkan cukup jelas, yaitu tambang pasir besi, karena potensi alam yang ditemukan adalah hamparan pasir besi; dan itu bisa merubah Kulon Progo menjadi daerah penyumbang ekonomi terbesar setiap tahunnya.

Konsep ambivalensi Homi K. Bhabha (Bhabha 1994) efektif untuk memahami diskursus pertama. Secara sederhana, ambivalensi merujuk pada ketidakkonsistenan wacana kolonial; di satu sisi mereka mendorong negara bekas jajahan untuk maju (pembangunan, fashion, konsumerisme). Namun di lain sisi, mereka menciptakan pembatas agar negara jajahan tidak melebihi kemajuan mereka. Paling tidak ada garis demarkasi yang membedakan antara penjajah dan terjajah. Seperti mitos pembangunan yang disinggung Vandana Shiva dalam ecofeminism.

Stereotipe menjadi perangkat pemulusan wacana kolonial, seperti mengatakan petani adalah pekerjaan terbelakang, kuno; untuk menjadi maju harus menggalakkan industrialisasi, misalnya memperbanyak industri ekstraksi.

Menurut Katherin Bandel, stereotipe adalah kebohongan, bukan kebenaran; dengan mengulang-ulang stereotipe, terjajah akan memacu diri menyamai penjajah—untuk lepas dari anggapan negara terbelakang dan budaya rendah. Maka impian menjadi negara maju adalah, seperti kata Shiva, mitos; karena Barat tidak rela negara jajahan sama majunya dengan mereka.

savanapost.com

Di sinilah letak ambivalensi, penjajah tidak membiarkan industri pertambangan “dikuasai” oleh “pribumi” sendiri; mereka harus ikut campur dalam proyek “negara maju” tersebut agar hierarki budaya tetap terjaga. Atau membiarkan pribumi menguasai, namun statusnya sebagai kolonialisme internal, sebagai kaki tangan kolonialisme global. Demikian juga ada sisi kelemahan penjajah, yaitu mereka takut tersaingi oleh terjajah.

Diskursus yang kedua—feminisme/gerakan perempuan—adalah respon perempuan terhadap wacana kolonial (diskursus pertama). Ini berkaitan dengan prolifeasi gerakan feminisme, sebagai upaya melepaskan diri dari wacana kolonial yang melekat pada ide feminisme Barat. Sebab, ide feminisme (gelombang pertama dan kedua) muncul dari kegelisahan perempuan negara penjajah.

Kerudung yang dilihat sebagai bentuk pengekangan perempuan oleh feminisme Barat, dalam konteks masyarakat petani beralih menjadi perangkat perlawanan.

Saya berangkat dari—kembali lagi—pandangan konstruktivis individualistis. Karena berbasis pada konsep Berger dan Luckman tentang interaksionisme simbolis, maka relasi kuasa perlu digarisbawahi. Saya menandai kerudung sebagai bentuk pendisiplinan perempuan, membentuk standar moral. Walaupun diberi kelonggaran untuk memakai atau tidak memakai, standarisasi tersebut menciptakan sanksi sosial bagi yang tidak memakainya. Dengan demikian, pilihan memakai kerudung adalah langkah paling aman bagi perempuan.

Konsep hibriditas Bhabha memberi enlightment dalam memahami posisi kerudung petani. Adalah suatu konsep yang mengatakan bahwa budaya akan menemukan ekuilibriumnya. Ia akan tetap stabil meski terjadi pertemuan dua budaya berbeda; sebab pertemuan itu akan menghasilkan budaya baru, yang disebut Bhabha sebagai ruang ketiga. Dari ruang ketiga inilah perlawanan feminisme pascakolonial terbentuk.

Kontekstualisasinya, petani perempuan Kulon Progo adalah hasil bentukan wacana kolonialisme lokal (standarisasi kerudung). Apa yang nampak adalah petani perempuan mengenakan kerudung sesuai norma yang diberlakukan oleh masyarakat. Petani perempuan tampak tersubordinasi lewat kerudung, namun yang sebenarnya terjadi mereka melakukan mimikri—memenuhi standar moral masyarakat—untuk memuluskan perlawanan mereka.

Wujud hibriditas di sini berupa dominasi maskulin melalui kerudung dan dorongan perempuan untuk mengakses ruang publik. Itu merupakan gabungan dua budaya yang konfrontatif: maskulin dan feminisme—sifatnya ambivalen, mengikuti tuntutan maskulin sekaligus melakukan perlawanan sesuai prinsip feminisme. Ini yang disebut ruang ketiga, petani perempuan bisa menggakomodasi dua budaya: mengenakan kerudung sekaligus melakukan perlawanan terhadap wacana kolonial.

Agar tidak dianggap sebagai feminis yang egois seperti dugaan Nadia Karima dalam esainya di Jurnal Perempuan, gerakan feminisme pascakolonial ini (petani perempuan) melakukan analisa struktur kapitalisme, yaitu tambang pasir besi, sebagai sumber penindasan. Di sanalah goal hibriditas petani perempuan: untuk meruntuhkan kapitalisme tambang (wacana kolonial).

Dengan berkerudung mereka bisa mengakses ruang publik tanpa mendapat stereotipe moral, perilaku keagamaan (kesalehan) mereka juga diakui. Itu merupakan ruang petani perempuan dalam menyusun resistensi, dan itu adalah gerakan feminisme yang lokalistik. Petani perempuan menjadi subjek aktif yang mampu menegosiasikan dua budaya yang berlawanan.

 

Kepustakaan

Andrew, Marie Mc. 2006. “The Hijab Controversies in Western Public Schools: Contrasting Conceptions of ethnicity and of ethic relation.” Dalam Muslim Diaspora: Gender, Culture and Identity, ed. Haideh Moghissi. New York: Routledge, 153–66.

Bhabha, Homi K. 1994. The Location of Culture. New York: Routledge..

Huda, Miftahul, dan Alfa Chusna. 2020. “Empowering Female Farmers Against Mining Capitalism.” Sawwa: Jurnal Studi Gender 15(1): 127–46. https://journal.walisongo.ac.id/index.php/sawwa/article/view/5311 (September 15, 2020).


COMMENTS

BLOGGER
Name

Agama,4,ahmadiyah,1,Buku,2,Ceramah,1,Cerpen,23,Donna Haraway,1,ekologi,2,esai,20,feminisme,1,fiksimini,4,G30S,1,Gallery,2,Ganja,2,gender,15,HOS Tjokroaminoto,1,hukum,1,Ilyas Husein,1,komunisme,1,Lapor,3,minoritas seksual,1,new normal,1,Opini,1,pascakolonial,1,Pembantaian,1,Pendidikan,2,perempuan,5,petani,1,PMII,1,politik,3,puasa,1,Puisi,3,Ratna Triwulandari,3,resensi,3,Rizka Umami,1,Sejarah,5,seksualitas,1,Selasar,17,Sosok,5,Tualang,1,
ltr
item
selasartutur[dot]com: Hibriditas Petani Perempuan dan Mode Perlawanan Feminisme Pascakolonial
Hibriditas Petani Perempuan dan Mode Perlawanan Feminisme Pascakolonial
Berkerudung bisa jadi bentuk pendisiplinan, tapi itu juga bisa jadi lumbung perlawanan.
https://1.bp.blogspot.com/-UM4un0nneGI/X6S5Seb3uzI/AAAAAAAAE-w/ii0pz4dBAIEf2uDKPQfLwtfLSTmz-rEKACLcBGAsYHQ/s320/yu%2Bpatmi.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-UM4un0nneGI/X6S5Seb3uzI/AAAAAAAAE-w/ii0pz4dBAIEf2uDKPQfLwtfLSTmz-rEKACLcBGAsYHQ/s72-c/yu%2Bpatmi.jpg
selasartutur[dot]com
https://www.selasartutur.com/2020/11/hibriditas-dan-mode-perlawanan.html
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/
https://www.selasartutur.com/2020/11/hibriditas-dan-mode-perlawanan.html
true
3884400824057811209
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy